Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Selasa, 28 September 2026,  Kisah Para Rasul 5:1-6  Belajar Dari Ketidakjujuran

Alfianne Lumantow • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 08:37 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab : Kisah Para Rasul 5:1-6

TEMA : BELAJAR DARI KETIDAKJUJURAN ANANIAS

".... Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu di dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah." (ay.4b,4c)

Jujur bakal mujur. Mungkin ungkapan yang terinpirasi dari petuah masyarakat Jawa ini terdengar idealis, moralis atau terlampau optimis.

Sebab, ada juga yang jujur bakal ancur (jujur akan hancur) atau jujur bakal kojur (jujur akan celaka). Kedua pesan plesetan itu lahir dari cara pandang pragmatis.

Memang ada orang-orang jujur menuai celaka, dan sebaliknya, ada para pendusta yang nampak melenggang bahagia.

Namun, bukankah Gusti ora sare (Tuhan tidak tidur) sehingga apa yang dilakukan manusia pasti selalu terpantau dalam "CCTV" Sang Gusti?

Bagaimanapun terlihat dari luar pendusta itu baik-baik saja, batinnya bagoyang pica-pica.

Perasaan bersalah atau gelisah karena takut ketahuan berdusta membuat yang bersangkutan seolah berada di ambang pintu petaka.

Petaka menimpa Ananias bukan karena jumlah uang pemberiannya kurang. Kesalahannya tidak disebabkan karena telah menyimpan sebagian hasil penjualan tanah.

Toh itu tetap miliknya. Akar masalah adalah skenario kebohongannya. Ananias mengejar validasi sebagai pribadi murah hati, padahal sebenarnya menyimpan dusta bersama sang istri.

Ananias berusaha melakukan gratifikasi terhadap Yang Ilahi demi meraih citra hidup bereputasi. Ananias tidak berdusta terhadap para rasul Kristus tetapi terhadap Roh Kudus.

Secara fisik Ananias berusaha terlihat biasa, tapi batinnya tidak dapat berdusta .

Petrus berkata: "Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu di dalam hatimu? Alhasil, ketika kebohongannya terbongkar, hidupnya pun ambyar.

Tragedi Ananias mengajak kita berfleksi, apakah kehidupan kita telah menjadi persembahan yang utuh, atau sekadar akting yang melainkan kejujuran rapi?

Tuhan tidak mencari kesempurnaan, melainkan kejujuran yang tulus. Lebih baik membawa hati yang hancur dan apa adanya ke hadapan Tuhan, daripada membawa persembahan besar berkemasan citra tak jujur. Ingatlah jujur bakal mujur. Amin.

 

Doa: Tuhan, ingatkanlah kami bahwa kemujuran hidup tidaklah bergan- tung pada kekayaan duniawi, tapi kejujuran diri kami. Amin

 

Editor : Alfianne Lumantow
RENUNGAN PAGI GPIB SABDA BINA UMAT