Pembacaan Alkitab : Kisah Para Rasul 5:7-11
TEMA : BELAJAR DARI KETIDAKJUJURAN SAFIRA
"Kira-kira tiga jam masuklah istri Ananias, tetapi ia tidak tahu apa yang telah terjadi." (ay. 7)
Surga nunut, neraka katut. Ikut menumpang ke surga, ikut terseret ke neraka. Peribahasa yang sudah sering terdengar, khususnya dalam budaya masyarakat Jawa.
Seorang istri harus berada di belakang suaminya. Sang istri disebut Konco wingking (teman di belakang).
Ungkapan ini menekankan kesetiaan mutlak istri pada suaminya. Pandangan modern sering mengkritiknya karena menempatkan perempuan dalam posisi pasif dan bergantung sepenuhnya pada suami.
Tapi, dalam perspektif post-modern, bisa juga dimaknai bahwa berada di belakang berarti aktif menginspirasi dengan pikiran kritis, memberi perhatian tulus dan memotivasi dengan kasih Allah. Sayangnya, Safira gagal dalam hal itu.
Tiga jam setelah suaminya, Ananias meninggal secara tragis, Safira masuk tanpa mengetahui apa yang telah terjadi.
Tiga jam itu kritis skenario memikirkan secara waktu anugerah untuk kebohongannya bersama suami.
Tiga jam adalah durasi pertobatan yang seharusnya Safira manfaatkan untuk berbalik pada skenario Tuhan.
Malangnya, ia mengabaikan kairos, kesempatan yang Tuhan karuniakan. Safira pun menyusul jejak suaminya, Ananias.
Kisah ini mengingatkan kita agar kehidupan rumah tangga, baik relasi suami-istri maupun anak-orang tua hendaknya terjalin menurut kemauan Tuhan.
Jujur di hadapan Tuhan agar doa-doa kita manjur dan keluarga kita mujur. Ingatlah bahwa kasih yang sejati seharusnya saling menegur, bukan saling menutupi lubang kebohongan sehingga relasi dengan Tuhan pun hancur.
Jangan biarkan orang terdekatmu menjadi alasan bagimu untuk mendustai hati nurani.
Jika Tuhan memberikanmu waktu "tiga jam" untuk meralat kesalahan atau mengakui kegagalan, ambillah!
Jangan tunggu sampai kebohongan itu menjadi jerat yang menghilangkan kesempatan menikmati kebahagiaan keluarga. Amin.
Doa: Tuhan, berkatilah keluargaku agar saling mendukung dalags futur dan laku yang berkenan pada Mu. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow