Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Sabtu, 3 Oktober 2026, Kisah Para Rasul  Iri Hati Meruntuhkan Relasi

Alfianne Lumantow • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 10:37 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab : Kisah Para Rasul 17:1-9

TEMA : IRI HATI, MERUNTUHKAN RELASI

"Namun, orang-orang Yahudi menjadi iri hati dan dengan bantuan beberapa penjahat yang berkeliaran di pasar, mereka mengadakan keributan dan mengacau kota itu...." (ay. 5)

Seorang bijak pernah berkata begini, "Waspadalah kharisma dan keberhasilan orang lain dapat menjadi cermin yang memantulkan rasa insecure dalam diri kita."

Suasana batin demikian jangan biarkan bercokol di relung hati nanti cinta kasih bisa mati dan kebersamaan pun tinggal basa-basi.

Teks hari ini memperlihatkan bagaimana iri hati dapat merusak relasi dan menggagalkan pemberitaan Injil.

Saat Paulus dan Silas masuk ke Tesalonika, mereka berbicara tentang Kristus; beberapa orang percaya, tetapi para pemimpin Yahudi yang iri menghasut kerumunan.

Iri hati di sini bukan sekadar perasaan pribadi, tapi telah menjadi kekuatan kolektif yang memutarbalikkan kebenaran, memecah komunitas, dan menempatkan keselamatan orang lain dalam bahaya.

Iri hati merusak karena ia mengubah fokus dari kebenaran menjadi kepentingan diri.

Para pemimpin yang merasa kehilangan pengaruh memilih fitnah dan kekerasan daripada dialog.

Mereka menuduh, menghasut, dan akhirnya memaksa otoritas untuk bertindak.

Akibatnya, jemaat yang baru lahir harus menghadapi penganiayaan dan pemisahan.

Kisah ini menantang kita untuk berdialog jujur pada nurani, apakah kita bersukacita atau merasa terancam.

Sebab itu, mari latihlah sukacita atas pertobatan orang lain. Sukacita itu memelihara relasi dan memperluas misi.

Ayo lawanlah iri hati dengan doa dan pengakuan. Ketika kita jujur, Roh Kudus mengubah hati yang gamang menjadi lapang.

Kreasikanlah atmosfer persekutuan yang mengutamakan kebenaran dan kasih, bukan kekuasaan dan reputasi.

Ketika kita menolak iri hati, relasi dipulihkan dan Injil dapat berkumandang tanpa hambatan.

Biarlah kasih dan kerendahan hati menjadi dasar setiap tindakan kita. Belajarlah merayaka keberhasilan sesama, memberi ruang untuk pelayanan baru.

Dan mengingat bahwa kemuliaan sejati berasal dari Allah, bukan dari posisi manusia. Amin.

 

Doa: Roh Kudus, bentengilah kami dari iri hati agar tidak mencemari kemurnian batin kami untuk mengasihi. Amin.

 

Editor : Alfianne Lumantow
RENUNGAN PAGI GPIB SABDA BINA UMAT