Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Rabu, 14 Oktober 2026, Roma 10:20-21  Allah Yang Mnegulurkan Tangan Di Tengah Penolakan

Alfianne Lumantow • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 11:27 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab :  Roma 10:20-21

TEMA : ALLAH YANG MENGULURKAN TANGAN DI TENGAH PENOLAKAN

"Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah." (ay.21)

Seorang ibu dengan kesal bercerita, "Sudah berkali-kali kubilang baik-baik sama dia, tapi tetap saja dipilihnya jalan sendiri.

Kutegur dia bukan karena kubenci. Takut kali aku dia salah langkah, nanti ujung-ujungnya menyesal.

Kadang capek aku, kadang sedih hatiku, tapi besok kucoba lagi ngomong sama dia.

Mau bagaimana lagi, namanya juga anak." Curhatan itu terasa sangat dekat dengan kehidupan banyak orang tua.

Kasih seorang ibu tidak mudah berhenti, sekalipun nasihatnya sering tidak didengar.

la tetap membuka ruang, tetap menunggu, dan tetap berharap anaknya pulang pada jalan yang benar.

Rasul Paulus menggambarkan hati Allah dengan sangat kuat. la mengutip firman Tuhan yang berkata, "Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku...." (ay. 21).

Gambaran ini memperlihatkan Allah yang tidak cepat menyerah terhadap umat-Nya. la terus memanggil, menegur, dan memberi kesempatan untuk kembali.

Namun, uluran tangan Allah itu bukan berarti la membenarkan ketidaktaatan.

Kasih Allah tidak memanjakan dosa. Kesabaran-Nya justru menjadi kesempatan bagi manusia untuk berhenti berkeras hati, meninggalkan jalan yang salah, dan kembali hidup dalam kehendak-Nya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun sering seperti anak yang mendengar nasihat, tetapi menunda untuk berubah.

Kita tahu yang Tuhan kehendaki, tetapi masih memilih jalan sendiri. Kita mengerti mana yang benar, tetapi sering mengabaikannya karena merasa masih ada waktu.

Padahal, setiap panggilan Tuhan adalah tanda kasih yang tidak boleh disia-siakan.

Pertanyaannya bukan apakah Tuhan masih mengulurkan tangan-Nya, melainkan apakah kita mau menyambut uluran tangan itu.

Pertobatan bukan hanya menyesal, melainkan berani pulang kepada Allah dan membiarkan hidup dibentuk kembali oleh kasih-Nya. Amin.

 

Doa: Tuhan, lembutkanlah hati kami untuk merespons panggilan-Mu. Amin.

Editor : Alfianne Lumantow
RENUNGAN MALAM GPIB SABDA BINA UMAT