Jika sebelumnya bekerja tanpa henti demi meraih kesuksesan kerap dianggap sebagai standar hidup ideal, kini semakin banyak orang mulai beralih menjalani hidup yang lebih tenang. Pergeseran cara pandang ini dikenal dengan istilah soft life, yakni gaya hidup yang mengutamakan kesejahteraan, ketenangan, dan keseimbangan, alih-alih mengejar produktivitas tanpa henti.
Mengutip artikel Forbes, psikolog Mark Travers menjelaskan bahwa meski istilah soft life tengah populer di media sosial, gaya hidup ini sebenarnya mencerminkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap makna kesuksesan. Perubahan ini terjadi seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental dan kualitas hidup.
Soft life pertama kali populer melalui komunitas kreator konten di Nigeria, salah satunya Sisi Yemmie, sebelum akhirnya menyebar luas lewat media sosial. Gaya hidup ini mendorong seseorang untuk tidak lagi merasa harus terus bekerja keras demi memenuhi standar kesuksesan yang dibentuk masyarakat.
Pergeseran pandangan ini turut tercermin dalam survei KeyBank, yang menunjukkan bahwa 72 persen responden lebih memilih mendefinisikan kesuksesan dari sudut pandang soft life, yakni yang menekankan kebahagiaan dan pemenuhan hidup. Sementara itu, 54 persen responden lainnya menilai budaya hustle atau bekerja tanpa henti berpotensi menyebabkan burnout.
Gaya hidup yang lebih santai ini mengajak seseorang untuk lebih memperhatikan kesehatan mental maupun fisik melalui kebiasaan self-care yang dilakukan secara konsisten. Menurut Travers, kesehatan mental dan fisik menjadi prioritas melalui rutinitas self-care serta aktivitas yang membawa kebahagiaan maupun relaksasi.
Ia turut merujuk pada tinjauan sistematis yang dipublikasikan pada 2023, yang menemukan sejumlah bentuk self-care paling bermanfaat bagi anak muda, di antaranya melatih kesadaran diri dan belas kasih kepada diri sendiri.
Editor : ALengkongSumber : https://lifestyle.kompas.com/read/2026/07/01/130500620/soft-life-gaya-hidup-yang-utamakan-ketenangan-kian-diminati