JagoSatu.com - Pernahkah Anda bertemu seseorang yang selalu merasa menjadi pihak paling tersakiti dalam setiap konflik, padahal kenyataannya tidak demikian? Dalam dunia psikologi, perilaku semacam ini dikenal dengan istilah playing victim. Fenomena ini bukan sekadar upaya mencari simpati, melainkan sebuah mekanisme pertahanan diri, di mana seseorang memposisikan dirinya sebagai korban untuk menghindari tanggung jawab.
Mengutip laman Alodokter dan Halodoc, playing victim merupakan kecenderungan seseorang untuk terus-menerus menempatkan dirinya sebagai korban sekaligus menyalahkan orang lain atas berbagai kesulitan hidupnya, meski bukti yang ada menunjukkan hal sebaliknya. Meski bukan tergolong gangguan jiwa, perilaku ini tetap berpotensi merusak hubungan sosial dan kesehatan mental seseorang apabila terus dibiarkan, bahkan bisa menjadi indikator adanya gangguan kesehatan mental tertentu, seperti gangguan kepribadian narsistik, borderline personality disorder (BPD), hingga PTSD. Jika tidak ditangani, dampaknya bisa berkembang lebih jauh, mulai dari rasa frustrasi dan putus asa, hingga stres kronis dan depresi.
Kondisi ini umumnya muncul dari perasaan menderita yang dilebih-lebihkan serta hilangnya rasa kendali diri, dan kerap berakar dari pengalaman traumatis di masa lalu. Perilaku ini juga sering dijadikan alat untuk menghindari konsekuensi dari perbuatan sendiri, menarik perhatian lewat rasa iba, atau sekadar cara melimpahkan kesalahan kepada orang lain. Orang yang terjebak dalam pola pikir ini umumnya meyakini bahwa kemalangan akan terus berulang, merasa orang lain atau lingkungan harus bertanggung jawab atas masalahnya, serta bersikap pesimis karena menganggap usaha memperbaiki keadaan hanya akan sia-sia.
Mengenali ciri-cirinya dapat membantu seseorang terhindar dari manipulasi. Beberapa karakteristik yang umum ditemui antara lain kecenderungan selalu menyalahkan pihak luar, bahkan lewat manipulasi psikologis (gaslighting); menghindari tanggung jawab dengan memposisikan diri sebagai korban demi mendapat simpati; membangun narasi negatif dan ketidakberdayaan untuk memancing rasa iba; haus akan perhatian lewat kisah-kisah sedih yang terus diulang; menunjukkan kecemasan berlebihan sebagai alasan menghindari kewajiban; bersikap manipulatif demi keuntungan sepihak; serta minim empati karena terlalu berfokus pada diri sendiri.
Perilaku playing victim tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan dipicu oleh berbagai faktor. Trauma masa lalu mengajarkan seseorang untuk bertahan dengan cara yang keliru, yakni terus berperan sebagai korban karena meyakini sikap ini dapat melindungi diri dari rasa sakit. Rasa kurang percaya diri juga mendorong seseorang menempatkan diri sebagai korban ketimbang mengambil kendali dan mencari solusi. Selain itu, pengalaman dikhianati, ditinggalkan, atau dimanipulasi di masa lalu dapat membuat seseorang merasa tidak berharga dan terus menganggap diri sebagai korban dalam interaksi sosialnya, sementara kesulitan mengelola emosi negatif seperti amarah atau frustrasi juga bisa membuat seseorang merasa tidak berdaya dan memilih lari dari tanggung jawab.
Menghadapi orang dengan perilaku playing victim dalam keseharian memang cukup melelahkan, meski penting diingat bahwa sikap ini sering kali berakar dari pengalaman traumatis. Beberapa langkah yang bisa diterapkan antara lain menetapkan batasan yang tegas untuk melindungi diri dari manipulasi maupun tekanan emosional, mendengarkan cerita mereka tanpa terburu-buru membenarkan seluruh klaim penderitaannya, tetap berempati tanpa terseret dalam drama yang dibangun, serta tidak meminta maaf jika memang tidak merasa bersalah agar tidak membuka celah manipulasi lebih jauh.
Selain itu, penting untuk memberikan dukungan secukupnya tanpa terlalu terlibat dalam persoalan mereka, tetap tenang dan menghindari sikap menyerang atau menghakimi, serta mengarahkan pembicaraan agar lebih berfokus pada penyelesaian masalah ketimbang sekadar mendengarkan keluhan berulang. Menunjukkan cara menghadapi kesulitan secara positif juga dapat membantu mereka memahami bahwa rintangan hidup adalah hal wajar yang bisa diatasi. Apabila perilaku tersebut sudah mengganggu dan berlebihan, mendukung mereka untuk berkonsultasi dengan psikolog atau konselor menjadi langkah penting agar mendapat penanganan trauma yang tepat dari tenaga profesional.
Editor : ALengkong