JAGOSATU.COM - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah mengeluarkan teguran tegas terkait insiden yang dialami oleh Batik Air pada tanggal 7 September 2023 yang lalu. Insiden tersebut menjadi perbincangan di berbagai media sosial karena ketidaknyamanan yang dialami oleh penumpang.
Pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan BTK 6293, dalam perjalanannya dari Makassar menuju Jakarta, mengalami matinya lampu dan pendingin kabin saat proses penurunan penumpang di Bandara Soekarno Hatta. Sebuah video yang diunggah oleh akun Instagram @fakta.indo pada tanggal 8 September memperlihatkan kondisi kabin yang gelap gulita. Penumpang terpaksa mengandalkan lampu senter dari perangkat pribadi mereka untuk melihat sekitar.
Keadaan ini membuat sebagian besar penumpang merasa cemas dan berkerumun di lorong kabin dalam upaya untuk segera keluar dari pesawat. Dalam tanggapannya, Direktur Jenderal Perhubungan Udara, M. Kristi Endah Murni, menyampaikan kekecewaannya terhadap insiden ini. Dia menegaskan bahwa keselamatan dan keamanan penumpang serta awak pesawat adalah prioritas utama.
Menyikapi insiden ini, Kemenhub akan memberikan teguran keras kepada Batik Air dan juga akan mengadakan investigasi terkait peristiwa tersebut. Kristi menambahkan, "Untuk itu selaku regulator, kami telah memberikan teguran keras kepada Batik Air dan secara paralel melakukan investigasi atas kejadian tersebut."
Dalam surat teguran keras yang diterbitkan oleh Ditjen Hubud, PT Batik Air Indonesia diminta untuk segera mengambil tindakan berikut:
- Menyampaikan langkah-langkah penanganan keluhan penumpang yang dilakukan oleh PT Batik Air dan langkah-langkah perbaikan dengan melakukan root cause analysis guna menemukan penyebab masalah tersebut kepada Ditjen Perhubungan Udara.
- Meningkatkan kapabilitas komunikasi pada personil terkait dengan kegiatan penerbangan penumpang dan unit kerja terkait di Bandar Udara.
- Meningkatkan kesiapan personil, prosedur, dan fasilitas dalam pelaksanaan kegiatan penerbangan.
Kronologi Insiden
Laporan awal diterima bahwa kendala opersional terjadi pada saat proses penurunan penumpang.
Terdapat malfungsi dari Ground Power Unit (GPU) yaitu peralatan pendukung pesawat sebagai penyuplai kelistrikan.
GPU yang tidak berfungsi mengakibatkan sistem kelistrikan dan pendingin dalam kabin tidak berfungsi.
Pendatangan Ground Power Unit (GPU) pengganti tidak mampu menyuplai aliran listri ke pesawat.
Sehingga Pilot in Command (PIC) memutuskan untuk segera menurunkan penumpang tanpa menggunakan GPU.
PIC juga telah menginformasikan kepada para penumpang bahwa mesin pesawat akan dimatikan selama proses penurunan.
Kendati demikian, para penumpang tetap merasa panik dengan kondisi gelap dalam kabin pesawat.
“Selain itu kami juga mengingatkan kepada masyarakat dan seluruh pengguna jasa transportasi udara pada saat dalam, dan setelah penerbangan agar mematuhi segala intruksi yang diberikan oleh awak pesawat guna menjaga keselamatan dan keamanan penerbangan,” ujar Kristi. (jpg)
Editor : Tina Mamangkey