Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Profil Tokoh Sumpah Pemuda, Menelusuri Jejak Para Perintis Kemerdekaan Indonesia

Tina Mamangkey • 2023-10-28 12:28:02
Suasana Museum Sumpah Pemuda di Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (28/10). Museum sumpah pemuda masih melakukan penutupan sementara untuk kunjungan masyarakat umum. Dari tahunke tahun museum ini ramai
Suasana Museum Sumpah Pemuda di Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (28/10). Museum sumpah pemuda masih melakukan penutupan sementara untuk kunjungan masyarakat umum. Dari tahunke tahun museum ini ramai

JAGOSATU.COM - Setiap tahun pada tanggal 28 Oktober, rakyat Indonesia merayakan Hari Sumpah Pemuda. Perayaan ini mengenang Kongres Pemuda yang menjadi pilar awal penyatuan di Indonesia.

Inisiatif untuk mempersatukan tekad Sumpah Pemuda diprakarsai oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggotakan pelajar dari seluruh penjuru Indonesia.

Dalam perjalanan sejarah, ada sejumlah tokoh yang memiliki peran penting dalam penyusunan teks Sumpah Pemuda. Mengutip sumber dari Kemdikbud.go.id dan arsip Museum Sumpah Pemuda, berikut adalah sejumlah tokoh berpengaruh di balik Sumpah Pemuda.

1. Tokoh Sumpah Pemuda

Perayaan Sumpah Pemuda pada setiap tanggal 28 Oktober adalah salah satu tonggak penting dalam kelahiran Indonesia sebagai negara. Sumpah Pemuda juga menandai puncak perjuangan dalam era kebangkitan nasional, di mana Indonesia beralih dari politik etis menuju kemerdekaan.

Sejarah mencatat profil sejumlah tokoh penting yang turut berperan dalam kesuksesan Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda, di antaranya adalah:

2. Soegondo Djojopoespito

Soegondo Djojopoespito, ketua panitia Kongres Pemuda II, lahir di Tuban, Jawa Timur, pada 22 Februari 1905. Soegondo dikenal sebagai seorang aktivis pendidikan.

Sebelum tinggal di kediaman Ki Hajar Dewantara, Soegondo belajar di HIS dan juga tinggal di pondok H.O.S Tjokroaminoto di Surabaya, di mana ia dititipkan oleh pamannya. Soegondo meninggal di Yogyakarta pada usia 73 tahun, tepatnya tanggal 23 April 1978.

3. Soenario Sastrowardoyo

Soenario Sastrowardoyo, penasihat panitia Kongres Pemuda II, lahir di Madiun, Jawa Timur, pada 28 Agustus 1902. Soenario adalah salah satu tokoh yang mencetuskan Manifesto 1925 ketika ia menjadi pengurus Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda bersama Muhammad Hatta.

Selain itu, ia dikenal sebagai seorang pengacara yang memperoleh gelar Meester in de rechten dan sering membela aktivis pergerakan yang berurusan dengan polisi Hindia Belanda. Soenario meninggal pada 17 Mei 1997 di Jakarta.

4. Johannes Leimena

Johannes Leimena, anggota Jong Ambon dan sekaligus panitia Kongres Pemuda II, lahir di Ambon, Maluku, pada tahun 1905. Ia juga dikenal sebagai seorang aktivis pergerakan, serta menjabat sebagai menteri dalam berbagai kabinet selama masa pemerintahan Presiden Soekarno selama 20 tahun.

Leimena termasuk dalam 18 kabinet yang berbeda, mulai dari Kabinet Sjahrir II (1946) hingga Kabinet Dwikora III (1966). Ia menduduki berbagai posisi, seperti Menteri Kesehatan, Wakil Perdana Menteri, Wakil Menteri Pertama, serta Menteri Sosial.

Selain itu, Leimena juga menjadi anggota DPR dan Konstituante, serta memimpin Parkindo antara tahun 1950 hingga 1961. Ia diakui sebagai Pahlawan Nasional dan meninggal pada 29 Maret 1977 di Jakarta.

5. Djoko Marsaid

Djoko Marsaid, Ketua Jong Java, juga pernah menjadi wakil ketua saat Kongres Pemuda II diadakan.

6. Muhammad Yamin

Muhammad Yamin, anggota Jong Sumatranen Bond, lahir pada 24 Agustus 1903 di Sawahlunto, Sumatera Barat. Ia adalah seorang sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, dan ahli hukum yang sangat dihormati. Yamin juga dianggap sebagai perintis puisi modern Indonesia dan namanya diabadikan sebagai Pahlawan Nasional.

7. Amir Sjarifoeddin Harahap

Amir Sjarifoeddin Harahap, yang memberikan banyak kontribusi brilian dalam pembentukan Sumpah Pemuda, lahir di Medan pada 17 April 1907. Ia dikenal sebagai seorang politikus sayap kiri (sosialis) dan kemudian menjadi tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang paling menonjol.

Amir pernah menjabat sebagai menteri dalam berbagai kabinet, termasuk Kabinet Presidensial, Kabinet Sjahrir I, Kabinet Sjahrir II, dan Kabinet Sjahrir III. Selain itu, ia juga menjadi perdana menteri antara 3 Juli 1947 hingga 29 Januari 1948 dengan membentuk Kabinet Amir Sjarifoeddin I dan II.

Namun, Amir Sjarifoeddin tewas tertembak di Ngaliyan, Solo pada 19 Desember 1948 karena keterlibatan dalam pemberontakan PKI Madiun tiga bulan sebelumnya.

Suasana Museum Sumpah Pemuda di Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (28/10). Museum Sumpah Pemuda masih melakukan penutupan sementara untuk kunjungan masyarakat umum. Setiap tahun, warga memadati museum ini saat memperingati Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober.

8. Wage Rudolf Supratman

Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu "Indonesia Raya," lahir pada 9 Maret 1903 di Purworejo, Jawa Tengah. Pada penutupan Kongres Pemuda II, W.R. Supratman memainkan sebuah lagu dengan instrumen biola yang kini dikenal sebagai lagu kebangsaan, Indonesia Raya.

W.R. Supratman meninggal pada 17 Agustus 1938 di Surabaya, Jawa Timur. Ia diakui sebagai Pahlawan Nasional, dan tanggal kelahirannya diperingati sebagai Hari Musik Nasional.

9. Sarmidi Mangoensarkoro

Sarmidi Mangoensarkoro, tokoh penting dalam Kongres Pemuda I dan II, lahir di Surakarta pada 23 Mei 1904. Mangoensarkoro juga pernah memberikan kuliah tentang pentingnya pendidikan bagi Indonesia sebagai sebuah bangsa.

Ia juga dikenal sebagai tokoh Taman Siswa dan menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dari tahun 1949 hingga 1950.

10. Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo

Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, tokoh penting dalam penyusunan naskah Sumpah Pemuda, lahir di Cepu, Jawa Tengah pada 7 Januari 1905. Ia sempat tinggal di rumah H.O.S Tjokroaminoto dan menjadi sekretaris pribadi Tjokroaminoto.

Di masa kemerdekaan, Kartosoewirjo dikenal sebagai tokoh Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Sejak awal, ia menginginkan Indonesia menjadi negara berdasarkan Islam.

Karena alasan tersebut, ia menolak tawaran untuk menjadi menteri dalam kabinet Amir Sjarifoeddin. Kartosoewirjo juga membentuk kelompok Darul Islam dan melakukan perlawanan terhadap pemerintah Indonesia dari tahun 1949 hingga 1962. Kartosoewrjo meninggal setelah dieksekusi mati di Pulau Seribu pada 5 September 1962.

11. Kasman Singodimedjo

Kasman Singodimedjo, Wakil Jong Islamieten Bond pada Kongres Pemuda II, lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 25 Februari 1904. Setelah kemerdekaan Indonesia, ia pernah menjabat sebagai jaksa agung selama periode 1945 hingga 1946, Menteri Muda Kehakiman Kabinet Amir Sjarifuddin II, serta menjadi Ketua KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat), yang merupakan cikal bakal DPR. Singodimedjo meninggal pada tanggal 25 Oktober 1982, dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2018.

12. Mohammad Roem

Mohammad Roem, seorang aktivis pemuda dan mahasiswa hukum, lahir pada 16 Mei 1908 di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Selama masa kebangkitan nasional Indonesia, ia aktif dalam organisasi Obligasi Jong Islamieten pada tahun 1924 dan Sarekat Islam pada tahun 1925.

Pada era kemerdekaan, Roem dikenal sebagai seorang diplomat ulung Indonesia di meja perundingan melawan Belanda. Selama kepemimpinan Presiden Soekarno, Roem juga menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, Menteri Luar Negeri, serta Menteri Dalam Negeri.

13. Adnan Kapau Gani

Adnan Kapau Gani, seorang aktivis pemuda dari Jong Sumatranen Bond, lahir di Palembang, Sumatra Selatan, pada tahun 1905. Ia turut hadir dalam Kongres Pemuda II. Gani juga dikenal sebagai dokter, politisi, dan tokoh militer Indonesia.

Ia pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II. Setelah revolusi berakhir pada tahun 1949, Gani menjadi Gubernur Militer Sumatera Selatan dan diangkat sebagai rektor Universitas Sriwijaya pada tahun 1954. Gani wafat pada tanggal 23 Desember 1968.

14. Sie Kong Liong

Sie Kong Liong, seorang pemuda keturunan Tionghoa, lahir pada 3 Januari 1878. Ia menyediakan rumahnya di Jalan Kramat Raya 106 sebagai tempat diadakannya Kongres Pemuda II. Atas prakarsa Soenario, rumah Sie Kong Liong dipugar oleh Gubernur DKI Ali Sadikin dan kemudian ditetapkan sebagai Gedung Sumpah Pemuda dan berganti nama menjadi Museum Sumpah Pemuda.

Demikianlah sejarah Sumpah Pemuda dan peran penting tokoh-tokoh tersebut dalam penyelenggaraan Kongres Pemuda I dan Kongres Pemuda II di Indonesia. Semua bermula dari PPPI bersama organisasi pemuda dari seluruh penjuru Indonesia yang menyelenggarakan Kongres Pemuda dan pada akhirnya menciptakan rumusan Sumpah Pemuda, yang kini diperingati setiap tanggal 28 Oktober. (jpg)

Editor : Tina Mamangkey
#hari sumpah pemuda #Tokoh #Sumpah Pemuda #sejarah #peringatan sumpah pemuda #28 Oktober