JAKARTA – Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah membawa dua sisi bagi perekonomian Indonesia. Di satu sisi, tekanan terhadap harga energi dan biaya logistik global meningkat. Namun di sisi lain, lonjakan harga komoditas membuka peluang bagi sektor pertambangan untuk mendorong kinerja ekspor.
Pemerintah Pangkas RKAB
Oleh karena itu, pelaku usaha pertambangan mendorong pemerintah memberikan keleluasaan untuk meningkatkan produksi maupun ekspor. Sebelumnya, pemerintah memangkas rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) sektor mineral dan batu bara pada 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan pasar sehingga stabilitas harga komoditas tetap terjaga.
Tambah Pemasukan Negara
Sekretaris Jenderal Indonesia Mining Association (IMA) Tony Wenas mengatakan, meningkatnya harga komoditas tambang dipicu oleh kenaikan permintaan global di tengah ketidakpastian geopolitik.
"Tentu saja bukan hanya batu bara. Komoditas tambang lain juga ikut naik. Ketika harga meningkat, artinya permintaan juga lebih besar," ujarnya.
Menurut Tony, momentum tersebut perlu direspons dengan kebijakan yang memberi ruang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan produksi maupun ekspor. "Timing-nya sebenarnya tepat. Jika diberi keleluasaan meningkatkan produksi atau ekspor, dampaknya bisa menambah pemasukan negara," katanya.
Meskipun demikian, dia mengingatkan konflik di Timur Tengah tetap membawa risiko jangka panjang terhadap stabilitas pasokan energi global.
Baca Juga: Iran Bantah Klaim Negosiasi Trump, Tuduh untuk Manipulasi Pasar Keuangan
Risiko Energi
Sementara itu, Head of Indonesia Eximbank Institute Rini Satriani mengatakan, pihaknya terus memantau perkembangan konflik di kawasan tersebut, terutama terkait jalur distribusi energi global.
"Selat Hormuz yang menjadi salah satu arteri utama perdagangan energi dunia," ujarnya.
Kawasan Timur Tengah sendiri menyumbang lebih dari 30 persen produksi minyak global. Sekitar 20–30 persen perdagangan minyak dunia juga melewati Selat Hormuz. Gangguan di jalur ini berpotensi mendorong lonjakan harga energi sekaligus meningkatkan biaya logistik global.
Meskipun Indonesia tidak secara langsung mengimpor minyak dari kawasan tersebut, dampaknya tetap terasa melalui negara perantara seperti Singapura dan Malaysia yang memasok sekitar 75 persen kebutuhan impor minyak nasional.
Peluang Jangka Pendek
Selain itu, kenaikan harga energi juga berpotensi menekan aktivitas industri di negara mitra dagang utama Indonesia seperti Tiongkok, Jepang, India, dan Korea Selatan. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi permintaan terhadap produk ekspor Indonesia.
Meskipun demikian, situasi ini juga membuka peluang bagi Indonesia. Lonjakan harga energi biasanya turut mendorong kenaikan harga komoditas ekspor seperti batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO).
"Secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas energi dan agro dapat membantu menopang kinerja ekspor Indonesia dalam jangka pendek. Namun volatilitas pada komoditas logam dan sektor industri tetap perlu diantisipasi," papar Rini. (agf/dio/jawa pos)
Editor : Pratama Karamoy