Jagosatu.com - Bayern Munich memilih berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kompetisi untuk memberi penghormatan terakhir.
Satu menit hening dilakukan seluruh skuad dan staf pelatih di lapangan latihan mereka di Atlanta, Amerika Serikat.
Momen ini dilakukan jelang pertandingan besar Bayern menghadapi Paris Saint-Germain di Piala Dunia Antarklub 2025.
Suasana berubah menjadi haru ketika seluruh pemain menunduk diam, mengenang Diogo Jota dan adiknya, André Silva.
Keduanya tewas dalam kecelakaan tragis di Spanyol setelah mobil mereka meledak dan terbakar hebat.
Menurut AP News, insiden tersebut terjadi saat Jota sedang mengendarai Lamborghini bersama sang adik.
Baca Juga: Diogo Jota Tewas Terbakar Bersama Adiknya – Dunia Sepak Bola Menangis
Mobil keluar jalur, menabrak, lalu terbakar di tempat—keduanya tidak sempat diselamatkan.
Bayern Munich menyatakan duka mendalam dan solidaritas kepada Liverpool dan keluarga korban.
Pelatih Bayern, Vincent Kompany, menyebut Jota sebagai pemain yang “penuh energi dan selalu menginspirasi.”
“Kami semua di sini, tak hanya rekan satu profesi, tapi juga keluarga besar sepak bola,” ujarnya seperti dikutip BavarianFootballWorks.
Para pemain Bayern juga mengenakan pita hitam selama sesi latihan sebagai simbol berkabung.
Pita hitam juga akan dikenakan pada jersey resmi saat laga semifinal nanti.
Langkah ini menyusul penghormatan yang juga dilakukan oleh Liverpool, UEFA, hingga Wimbledon.
Wimbledon bahkan melonggarkan aturan 148 tahun tentang pakaian serba putih demi mengenang Jota.
Langkah-langkah ini memperlihatkan bagaimana dunia sepak bola bisa bersatu di tengah duka.
Momen hening di lapangan latihan Bayern menjadi viral di media sosial dan banjir dukungan.
Banyak fans memuji tindakan Bayern yang tetap menjaga nilai kemanusiaan di tengah tekanan kompetisi.
Meski laga besar menanti, empati tetap menjadi prioritas utama klub raksasa asal Jerman itu.
Jota dikenal sebagai pemain yang hangat dan rendah hati, membuat kepergiannya meninggalkan luka mendalam.
Sang adik, André Silva, juga seorang pemain muda penuh potensi yang bermain di klub Penafiel, Portugal.
Kini dunia sepak bola tak hanya kehilangan talenta, tapi juga kehilangan dua jiwa yang penuh semangat. (anl)
Editor : ALengkong