Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Mohamed Salah Buka-bukaan: Ini Dia Sosok Pelatih yang Paling Berpengaruh dalam Kariernya, Jauh Melebihi Jurgen Klopp di Liverpool

Toar Rotulung • 2025-07-21 22:05:14
Mohamed Salah (Dok. Instagram @mosalah)
Mohamed Salah (Dok. Instagram @mosalah)

JAGOSATU.COM - Sebuah pengakuan mengejutkan datang dari bintang Liverpool, Mohamed Salah. Dalam wawancara eksklusif bersama France Football, sang Egyptian King tidak menyebut Jurgen Klopp sebagai pelatih terbaik yang pernah bekerja dengannya.

Justru, nama Luciano Spalletti, pelatih asal Italia yang pernah menanganinya di AS Roma, keluar dari mulutnya sebagai sosok paling berpengaruh dalam perkembangan karier sepak bolanya.

Selama hampir satu dekade terakhir, nama Mohamed Salah begitu identik dengan kejayaan Liverpool.

Bersama Jurgen Klopp, ia menjelma menjadi ikon Anfield dan sukses mempersembahkan berbagai trofi bergengsi, mulai dari Premier League hingga Liga Champions. Namun, dalam pandangan pribadi Salah, bukan Klopp yang paling layak menyandang status pelatih terbaik dalam hidupnya.

Pemain yang telah melanglang buana ke berbagai klub top Eropa—dari Al-Mokawloon, Basel, Chelsea, Fiorentina, Roma, hingga Liverpool—tentu memiliki banyak referensi tentang gaya kepelatihan dan karakter manajer dunia. Namun, hanya satu nama yang benar-benar membekas dalam benaknya: Luciano Spalletti.

Pengaruh Singkat, Dampak Besar: Era Spalletti di AS Roma

Luciano Spalletti dan Mohamed Salah bekerja sama saat keduanya berada di AS Roma, meski hanya dalam periode singkat dari tahun 2015 hingga 2016. Kendati demikian, pengaruh Spalletti terhadap perkembangan Salah sangatlah besar.

Dalam wawancara bersama France Football, Salah mengungkapkan, "Saya berkembang pesat di bawah asuhan Spalletti, baik secara taktis maupun mental. Ia memberi saya kebebasan untuk mengekspresikan bakat saya dan tumbuh sebagai pesepak bola." Pengakuan ini menggarisbawahi bagaimana sentuhan personal seorang pelatih bisa lebih berkesan daripada sekadar deretan trofi.

Setelah kebersamaan mereka berakhir di Roma, Spalletti melanjutkan kariernya ke Inter Milan dan kemudian mencapai puncak kejayaan dengan membawa Napoli menjuarai Serie A pada musim 2022/23. Gelar bergengsi itu membuat Spalletti kembali diperhitungkan di level tim nasional Italia, meskipun sayangnya ia dipecat pada Juni 2025 setelah gagal bersinar di kancah internasional.

Kiprah Gemilang di Bawah Jurgen Klopp: Era Emas Salah di Anfield

Meskipun Spalletti disebut sebagai pelatih terbaik dalam kariernya, tidak bisa dimungkiri bahwa masa keemasan Salah justru terjadi di Liverpool saat diasuh Jurgen Klopp. Sejak datang ke Anfield pada 2017, Salah telah berkembang menjadi mesin gol yang menakutkan dan mengoleksi berbagai gelar prestisius.

Salah sukses meraih empat kali sepatu emas Premier League: pada musim 2017/18, 2018/19, 2021/22, dan yang terbaru di 2024/25. Ia juga tercatat sebagai top skor sepanjang masa Liverpool di kompetisi Liga Inggris. Di bawah kepemimpinan Klopp, Salah mempersembahkan sederet trofi yang mengangkat Liverpool kembali ke puncak sepak bola Eropa dan Inggris, meliputi:

Namun, hubungan antara Klopp dan Salah sempat memanas di penghujung musim 2023/24. Keduanya terlibat adu mulut di pinggir lapangan yang disaksikan jutaan pasang mata, menimbulkan spekulasi. Beberapa bulan setelah insiden tersebut, Klopp resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai manajer Liverpool dan posisinya digantikan oleh Arne Slot.

Sergio Ramos: Lawan Tersulit dan Momen Krusial

Dalam kesempatan yang sama, Salah juga ditanya mengenai bek paling tangguh yang pernah ia hadapi. Tanpa ragu, ia menyebut nama Sergio Ramos.

Pengakuan ini tak lepas dari insiden pahit di final Liga Champions 2018 ketika Ramos menjatuhkannya secara kontroversial, membuat Salah harus keluar lebih awal karena cedera, dan kehilangan momentum krusial menjelang Piala Dunia 2018.

"Pertandingan itu sangat emosional bagi saya. Saya ingin membantu tim, tapi saya harus meninggalkan lapangan terlalu cepat," ujar Salah mengenang momen tersebut.

Momen Terbaik dan Legenda Afrika Versi Salah

Ketika ditanya mengenai momen terbaik dalam kariernya, Salah tanpa ragu menjawab: "Memenangkan Liga Champions bersama Liverpool adalah puncak pencapaian saya."

Ia juga diminta menyebut siapa saja pemain Afrika terbaik sepanjang masa. Salah menyebut nama-nama besar seperti George Weah, Didier Drogba, dan Samuel Eto’o.

Menariknya, ia juga dengan rendah hati menambahkan dirinya sendiri ke dalam daftar tersebut. "Saya tidak ingin terdengar sombong, tapi saya juga ingin percaya bahwa saya termasuk di antara mereka," ucap Salah.

Pengakuan ini menarik karena Salah tidak semata-merta menilai lamanya kerja sama sebagai tolok ukur terbaik. Meskipun masa baktinya bersama Klopp jauh lebih panjang dan penuh trofi, justru Spalletti yang paling meninggalkan kesan mendalam.

Hal ini menunjukkan bahwa kedekatan emosional, pengaruh personal, dan kebebasan berekspresi bisa menjadi faktor penting dalam hubungan pelatih-pemain.

Warisan Abadi Mohamed Salah

Apa yang disampaikan Salah dalam wawancara ini memberi gambaran luas tentang bagaimana ia memandang kariernya secara utuh—bukan hanya lewat statistik dan trofi, tetapi juga lewat relasi, pelajaran hidup, dan pencapaian personal.

Meskipun kariernya belum berakhir, warisan Salah di dunia sepak bola, khususnya sebagai pemain Muslim dari Afrika, sudah menjadi inspirasi besar bagi banyak pihak.

Dengan reputasi yang masih tinggi dan performa yang konsisten, publik masih menantikan langkah berikutnya dari Salah, baik di level klub maupun tim nasional Mesir.

Siapapun pelatihnya nanti, satu hal yang pasti: warisan Mohamed Salah akan terus abadi dalam sejarah sepak bola modern.

Editor : Toar Rotulung
#Liverpool #luciano spalletti #Mohamed Salah #pelatih terbaik #Jurgen Klopp