JagoSatu.com - Huawei, raksasa teknologi asal Tiongkok yang sudah dikenal dengan ponsel pintar dan TV pintar berbekal HarmonyOS buatan mereka sendiri, baru saja merilis laptop pertama yang dipasarkan dengan sistem operasi tersebut, bukan Windows. Ini merupakan langkah signifikan. Menanamkan OS buatan sendiri pada perangkat sekelas desktop adalah sebuah usaha yang tidak main-main. Keputusan Huawei untuk mengembangkan OS baru ini jelas bukan sekadar iseng. Seperti dilaporkan oleh liliputing.com, perusahaan ini "terjepit oleh sanksi AS" yang memblokir perusahaan-perusahaan Amerika seperti Microsoft berbisnis dengan mereka, sehingga secara efektif membatasi akses Huawei ke Windows.
Namun, sisi positifnya bagi Huawei adalah mereka kini memiliki kendali yang jauh lebih besar atas hardware dan software di seluruh ekosistem perangkat mereka. Sanksi yang memaksa sebuah perusahaan mengembangkan ekosistem OS lengkapnya sendiri, dari kernel hingga antarmuka pengguna (UI), memang terdengar ekstrem. Namun, ini jelas memberi Huawei independensi strategis yang lebih besar dalam jangka panjang. Versi HarmonyOS yang dirancang untuk laptop tampaknya sengaja dibuat agar terasa familiar. Ia hadir dengan antarmuka bergaya desktop lengkap: ada bilah tugas, dock di bagian bawah, dan mendukung multitasking dengan jendela yang bisa diubah ukurannya – pada dasarnya, semua fitur yang Anda harapkan dari sebuah OS desktop.
Karena sekarang sudah tahun 2025, tentu saja, demo yang diperlihatkan banyak menampilkan kemampuan AI. Mereka memamerkan asisten virtual mereka, Celia, yang bisa melakukan tugas-tugas seperti meringkas dokumen dan membantu presentasi. Meniru antarmuka desktop yang sudah dikenal memang masuk akal untuk memudahkan adopsi pengguna, dan mengintegrasikan AI langsung ke dalam OS adalah langkah cerdas untuk tetap relevan di lanskap teknologi saat ini.
Namun, di sinilah tantangan terbesarnya: kompatibilitas software. HarmonyOS tidak akan bisa menjalankan jutaan aplikasi Windows tradisional. Huawei menyatakan bahwa saat peluncuran, HarmonyOS untuk laptop akan mendukung "lebih dari 2.000 aplikasi," termasuk alternatif lokal seperti WPS Office dan berbagai aplikasi media sosial, seperti dikutip oleh liliputing.com. Bagi pengguna yang sudah memiliki laptop Huawei lama yang masih menjalankan Windows, jangan khawatir. Perangkat tersebut dikabarkan akan terus didukung dengan Windows. Dua ribu aplikasi? Angka itu hanyalah setetes air di lautan jika dibandingkan dengan koleksi aplikasi Windows. Membangun ekosistem aplikasi yang menarik dari nol bisa dibilang merupakan rintangan terbesar bagi OS desktop baru, dan ini akan sangat sulit bagi Huawei di luar pasar Tiongkok.
Pada akhirnya, kehadiran laptop HarmonyOS Huawei ini tampaknya kurang didorong oleh permintaan pengguna terhadap OS baru, melainkan lebih karena realitas geopolitik yang memaksa mereka. Langkah ini memberi mereka integrasi dan kontrol vertikal. Namun, keberhasilan platform ini di ranah laptop akan sangat bergantung pada kemampuan mereka menarik pengembang dan meyakinkan pengguna beralih dari ekosistem Windows yang luas, terutama dengan ketersediaan aplikasi yang masih terbatas saat peluncuran. Ini adalah sebuah eksperimen yang berani, namun juga dipaksakan. Meskipun independensi ini sangat berharga bagi Huawei, kurangnya ekosistem aplikasi yang matang adalah tantangan besar yang kemungkinan akan membatasi adopsi laptop ini pada wilayah atau pengguna tertentu yang memang sudah sangat terintegrasi dalam ekosistem HarmonyOS di perangkat lain.
Menurut kalian, seberapa besar peluang laptop Huawei dengan HarmonyOS ini untuk bersaing dengan laptop berbasis Windows? Apakah keterbatasan jumlah aplikasi akan menjadi kendala utama? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung