JagoSatu.com - Siap-siap, karena masa depan dunia medis baru saja melakukan lompatan besar yang terasa seperti adegan film fiksi ilmiah. Para peneliti di Universitas Johns Hopkins telah berhasil "mencangkokkan" otak AI yang mirip dengan ChatGPT ke dalam robot bedah DaVinci. Sistem baru yang diberi nama SRT-H ini diajarkan untuk melakukan prosedur pengangkatan kantung empedu pada organ babi, dan hasilnya berhasil dengan sempurna. Meskipun gagasan tentang AI memegang pisau bedah terdengar sedikit mengerikan, harus diakui bahwa lompatan teknologinya sangat mengesankan.
Lalu, bagaimana cara kerjanya? Berbeda dari robot bedah konvensional yang hanya mengikuti program kaku seperti lengan di pabrik mobil, AI ini menggunakan metode "pembelajaran imitasi". Sebagaimana dilaporkan oleh Ars Technica, para peneliti memberinya data dari lebih dari 17 jam rekaman video dan gerakan tangan ahli bedah manusia saat melakukan operasi. Dari sana, AI ini berhasil mempelajari 17 langkah prosedur dan bahkan mampu melakukan penyesuaian dengan cepat. Namun, seorang komentator menunjukkan fakta penting: ini adalah skenario laboratorium yang bersih. Operasi sungguhan sering kali jauh lebih rumit dan "berantakan" karena adanya peradangan, sesuatu yang belum pernah dihadapi AI ini. Jadi, meski merupakan pembuktian konsep yang hebat, teknologi ini masih dalam tahap tutorial.
Walaupun hasil di laboratorium tampak sempurna dengan "tingkat keberhasilan 100 persen" dan kemampuan merespons perintah suara seperti "letakkan klip sedikit lebih tinggi", realitas di lapangan bisa jadi berbeda. Seorang dokter gigi berbagi pengalamannya menggunakan robot AI serupa untuk implan. Ia menemukan bahwa robot tersebut bekerja lebih lambat, kurang akurat, dan jauh lebih mahal dibandingkan solusi sederhana seperti "mencetak panduan bedah 3D dengan printer seharga $300". Ini menyoroti dilema klasik teknologi mutakhir: sebuah inovasi mungkin brilian secara teknis, tetapi jika tidak lebih baik, lebih cepat, atau lebih murah dari metode yang ada, ia hanyalah sebuah mesin canggih yang sangat mahal.
Anehnya, rintangan terbesar bagi proyek ini bukanlah masalah teknis, melainkan urusan korporat. Untuk bisa melaju ke tahap uji coba pada manusia, para peneliti membutuhkan data pelatihan dalam jumlah besar, terutama data pergerakan (kinematika) dari robot DaVinci itu sendiri. Namun, perusahaan pembuatnya, Intuitive Surgical, menolak untuk membagikan data tersebut. Dikutip dari Ars Technica, peneliti utama Ji Woong Kim mengatakan, "Saya sudah memohon kepada mereka untuk memberikan datanya. Mereka tidak setuju," dengan alasan khawatir teknologi mereka akan direkayasa balik. Ini adalah contoh nyata bagaimana rahasia dagang bisa menghambat potensi terobosan medis yang luar biasa.
Semua ini pada akhirnya memunculkan satu pertanyaan besar: "bagaimana ahli bedah baru akan mendapatkan pengalaman jika prosedur rutin sudah diambil alih oleh AI?" Jika semua operasi sederhana diotomatisasi, kita berisiko mengalami "kehabisan keterampilan" dan kekurangan dokter manusia yang berpengalaman untuk menangani kasus-kasus rumit dan tak terduga. Seperti yang disarankan oleh seorang dokter di kolom komentar, mungkin penggunaan terbaik AI di dunia medis bukanlah sebagai pengganti, melainkan sebagai asisten—membantu tugas pencatatan yang rumit atau menjadi pemeriksa akhir. Teknologi ini memang keren, tapi sebelum kita melepas AI di ruang operasi, ada diskusi serius yang perlu dilakukan tentang aspek ekonomi, pelatihan dokter, dan siapa yang harus bertanggung jawab jika robot mengalami "halusinasi".
Nah, bagaimana menurut kalian? Apakah AI di ruang operasi adalah sebuah kemajuan yang tak terhindarkan, atau justru kita perlu lebih berhati-hati dalam menerapkannya? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung