Jagosatu.com – Dulu dianggap sebagai senjata rahasia Tesla untuk menguasai dunia kecerdasan buatan, proyek superkomputer Dojo kini resmi dimatikan.
Tesla memperkenalkan Dojo pertama kali pada acara AI Day 2021, sebagai superkomputer canggih yang dirancang untuk melatih sistem Full Self-Driving (FSD) milik mereka.
Dojo dirancang menggunakan chip buatan sendiri bernama D1, yang dibuat khusus untuk memproses data video dari jutaan kilometer perjalanan mobil Tesla.
Harapannya, dengan Dojo, Tesla bisa mempercepat pelatihan AI mereka tanpa tergantung pada superkomputer pihak ketiga.
Menurut laporan dari media luar negeri, proyek ini sempat diprediksi akan memberi tambahan nilai pasar sebesar 500 miliar dolar AS bagi Tesla.
Namun, realitasnya tak seindah ekspektasi—Dojo menghadapi banyak tantangan teknis yang sulit diselesaikan, termasuk desain chip yang sangat kompleks.
Menurut salah satu sumber, Elon Musk bahkan menyebut Dojo sebagai “long shot,” yaitu proyek berisiko tinggi dengan kemungkinan gagal yang besar.
Pada Agustus 2025, Tesla secara resmi membubarkan tim pengembang Dojo setelah penundaan berbulan-bulan dan hasil pengembangan yang tidak sesuai target.
Peter Bannon, pimpinan proyek Dojo, memilih keluar dari perusahaan setelah keputusan pembubaran diumumkan.
Baca Juga: Heboh! Konferensi AI di IIT Kanpur Bahas Masa Depan Teknologi, Startup hingga Cybersecurity
Sekitar 20 anggota inti tim Dojo juga hengkang dan langsung bergabung dengan startup AI baru bernama DensityAI.
Mereka yang tetap tinggal di Tesla kemudian dipindahkan ke divisi lain seperti komputasi cloud dan keamanan kendaraan otonom.
Elon Musk menjelaskan bahwa mempertahankan dua arsitektur chip yang berbeda justru membuang waktu dan sumber daya tim internal.
Karena itu, Tesla kini fokus pada chip baru bernama AI5 dan AI6, yang bisa digunakan untuk dua hal sekaligus: inferensi dan pelatihan model AI.
Untuk mempercepat produksi chip AI6, Tesla telah menandatangani kerja sama besar dengan Samsung senilai 16,5 miliar dolar AS.
Selain itu, Tesla juga akan lebih mengandalkan kekuatan dari mitra eksternal seperti Nvidia dan AMD untuk memenuhi kebutuhan komputasi mereka.
Ironisnya, meskipun proyek Dojo dihentikan, harga saham Tesla justru naik lebih dari 2 persen setelah pengumuman tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa investor melihat keputusan ini bukan sebagai kegagalan, tapi sebagai pergeseran strategi yang lebih realistis.
Tesla kini mengalihkan fokus pengembangan AI ke arah yang lebih efisien dan praktis, termasuk proyek robotaxi dan humanoid robot Optimus.
Proyek Dojo mungkin telah ditutup, tapi ambisi AI Elon Musk jelas belum berhenti sampai di sini.
Apakah ini strategi ulang atau tanda bahwa bahkan raksasa seperti Tesla pun bisa gagal?
(KT)
Editor : ALengkong