Jagosatu.com - Dunia media kembali memanas setelah CEO People, Neil Vogel, menyebut Google sebagai "bad actor".
Pernyataan keras ini dilontarkan Vogel dalam acara teknologi bergengsi Fortune Brainstorm Tech 2025 di AS.
Menurut Vogel, Google menggunakan satu sistem crawler untuk dua tujuan yang berbeda.
Crawler adalah robot digital yang digunakan untuk menelusuri dan mengumpulkan informasi dari situs web.
Biasanya, crawler digunakan oleh mesin pencari seperti Google untuk menampilkan hasil pencarian dari berbagai website.
Namun, Vogel menuduh bahwa crawler milik Google tidak hanya untuk pencarian, tetapi juga untuk mengumpulkan konten guna melatih kecerdasan buatan (AI) mereka.
Dilansir dari Fortune, Vogel menilai praktik ini sebagai tindakan yang tidak adil dan merugikan publisher seperti perusahaannya.
Menurutnya, Google telah menyalahgunakan konten dari situs media tanpa memberikan kompensasi yang layak.
Baca Juga: RSL: Senjata Baru Kreator Agar Dibayar oleh Perusahaan AI.
Ia juga menyebut bahwa sistem tersebut membuat perusahaan media terjebak dalam dilema.
Jika mereka memblokir crawler, maka artikel mereka tidak akan muncul di hasil pencarian Google.
Tapi jika mereka membiarkan crawler mengakses situs mereka, maka Google bisa mengambil konten untuk produk AI tanpa izin.
Vogel menyebut tindakan ini sebagai “sengaja dan sistematis” karena Google tahu dampaknya tapi tetap melakukannya.
Dilansir dari Hyper.ai, trafik dari Google ke situs-situs media milik People Inc. kini turun drastis.
Dulu, 65 persen pengunjung datang dari Google, sekarang tinggal di kisaran 20 persen saja.
Penurunan ini dianggap memukul bisnis media yang sangat bergantung pada trafik dari pencarian.
Publisher pun mulai melakukan perlawanan, salah satunya dengan memblokir crawler AI menggunakan layanan Cloudflare.
Cloudflare menyediakan alat yang bisa membedakan crawler biasa dan crawler milik AI, sehingga bisa dibatasi aksesnya.
Vogel juga menyebut sedang berdiskusi dengan perusahaan AI besar, termasuk Google, untuk mendapatkan kompensasi atas penggunaan konten.
Namun sampai saat ini belum ada kesepakatan yang dicapai.
Google sendiri belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan ini.
Isu ini memicu perdebatan baru soal etika penggunaan konten dalam pelatihan AI.
Banyak pihak menilai perlu ada aturan yang lebih tegas agar konten tidak digunakan semaunya oleh teknologi baru.
Jika dibiarkan, media bisa kehilangan pendapatan dan makin sulit bertahan di era digital.
Kasus ini bisa jadi awal dari perlawanan besar media terhadap raksasa teknologi. (KT)
Editor : ALengkong