JagoSatu.com - Vivo menggebrak pasar mixed reality (MR) dengan merilis headset "Vision". Perangkat ambisius ini diposisikan untuk menjadi penantang serius bagi para pemain besar di industrinya.
Dibanderol sekitar $1.400, harganya kurang dari setengah Apple Vision Pro. Hal ini membuatnya menjadi opsi yang jauh lebih terjangkau untuk teknologi MR kelas atas.
Menurut JagatReview, bobotnya hanya 398 gram, bahkan lebih ringan dari kebanyakan headphone. Ini menjadi solusi untuk masalah kenyamanan yang sering dikeluhkan pada headset VR.
Desainnya yang ergonomis didukung tali cincin ganda dan empat pelindung cahaya. Semua ini dirancang untuk memastikan kenyamanan maksimal, bahkan saat digunakan dalam sesi yang panjang.
Di sektor visual, perangkat ini dibekali dua layar Micro-OLED 8K. Bidang pandangnya pun sangat luas, mencapai 180 derajat, menjanjikan pengalaman sinematik yang imersif.
Dilaporkan oleh JagatReview, layarnya mampu mencakup 94% gamut warna DCI-P3. Hal ini menjamin reproduksi warna yang sangat cerah dan akurat untuk pengalaman visual terbaik.
Vivo juga menyediakan opsi lensa resep magnetik khusus bagi pengguna kacamata. Sebuah fitur aksesibilitas penting yang menunjukkan perhatian pada detail dan sering dilupakan merek lain.
Dapur pacunya ditenagai oleh prosesor Snapdragon XR2+ Gen 2. Chipset bertenaga ini dipastikan lebih dari cukup untuk menangani berbagai tugas dan aplikasi VR yang berat.
Dikutip oleh JagatReview, sistem navigasinya mengandalkan pelacakan mata dan tangan yang presisi. Hal ini memungkinkan kontrol yang lebih intuitif tanpa perlu menggunakan kontroler fisik.
Fitur passthrough video penuh warnanya memiliki latensi sangat rendah, hanya 13 milidetik. Angka ini membuat perpaduan antara dunia nyata dan virtual terasa sangat mulus dan natural.
Untuk dayanya, headset ini mengandalkan power bank eksternal 5.560 mAh. Baterai ini diklaim mampu bertahan hingga 2,5 jam, yang mungkin menjadi kekurangan untuk sesi panjang.
Menurut JagatReview, headset ini belum dijual bebas. Saat ini hanya tersedia dalam edisi terbatas "Discovery Edition" di Tiongkok, sebuah langkah wajar untuk platform baru.
Tantangan terbesar bagi Vivo Vision kini adalah membangun ekosistem konten. Ketersediaan aplikasi dan dukungan dari para pengembang akan menjadi kunci kesuksesan jangka panjangnya.
Dengan spesifikasi tinggi dan harga jauh lebih rendah, Vivo Vision jelas memposisikan diri sebagai penantang Apple Vision Pro. Ini akan menjadi pertarungan menarik di segmen MR premium.
Vivo mengambil pertaruhan besar untuk membuat teknologi MR kelas atas lebih terjangkau. Nah, menurut kalian, apakah strategi harga ini akan berhasil merebut pasar? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung