JagoSatu.com - OpenAI baru saja merilis GPT-5.2, model andalan terbaru mereka. Peluncuran ini dilakukan tepat setelah CEO Sam Altman mengumumkan status darurat atau "code red", sepertinya kehadiran Gemini 3 dari Google bikin mereka gerah dan langsung tancap gas.
Sam Altman sangat percaya diri menyebut model ini sebagai AI paling pintar yang ada di pasaran saat ini. Menurutnya, GPT-5.2 sangat andal menangani tugas-tugas pekerjaan nyata yang membutuhkan pengetahuan mendalam. Klaim yang cukup berani, ya.
Dilansir oleh Gizmodo, OpenAI mengklaim GPT-5.2 berhasil memecahkan rekor baru. Yang bikin merinding, model ini diklaim lebih jago dari manusia asli di 44 jenis pekerjaan profesional. Kabar yang cukup menakutkan buat pekerja kantoran.
Lewat mode "Berpikir", performanya disebut setara atau bahkan melebihi ahli manusia dalam membuat cetak biru hingga dokumen hukum. Bukan cuma teman curhat, AI ini sudah bisa diajak kerja beneran untuk mengotomatisasi tugas yang rumit.
Kabar baiknya, OpenAI mengklaim telah mengurangi masalah "halusinasi" atau jawaban ngawur yang sering jadi momok. Tingkat kesalahan respons disebut turun drastis hingga 30% dibanding versi sebelumnya. Ini poin penting agar AI bisa dipercaya masuk ranah korporat.
Dalam urusan coding, GPT-5.2 sukses mengasapi Gemini 3 di benchmark SWE-Bench Pro. OpenAI jelas ingin merebut kembali hati para programmer yang sempat tergoda pindah ke kubu sebelah karena kemampuan coding Gemini yang mumpuni.
Namun, drama papan skor ini masih berlanjut. Dikutip dari Gizmodo, Gemini 3 milik Google ternyata masih menduduki peringkat teratas di LMArena. Persaingan ketat ini seru buat ditonton, tapi kadang bikin pusing pengguna harus pilih yang mana.
Menariknya, CEO OpenAI untuk aplikasi, Fidji Simo, membantah kalau rilis ini adalah respons panik terhadap Gemini 3. Agak sulit dipercaya, mengingat status "code red" yang sempat heboh kemarin. Mungkin cuma kebetulan saja?
OpenAI sendiri anehnya memilih diam soal perbandingan langsung dengan kompetitor. Mereka lebih fokus memamerkan peningkatan dibanding GPT-5.1 sebelumnya, mungkin strategi untuk menjaga harapan pengguna setelah rilis GPT-5 yang dianggap kurang menggigit.
Di sisi lain, perusahaan juga mengklaim kemajuan dalam fitur keamanan, terutama saat mendeteksi pengguna yang terindikasi tidak baik-baik saja secara mental. Ini perbaikan krusial yang memang harus segera dibereskan oleh semua penyedia AI.
Dikutip dari Gizmodo, dorongan fitur keamanan ini muncul di tengah badai tuntutan hukum terkait kasus tragis. Beberapa kasus kematian dilaporkan melibatkan percakapan yang meresahkan antara pengguna dengan chatbot tersebut.
Salah satu kasus memilukan melibatkan seorang wanita lansia dan putranya yang diduga bunuh diri setelah berinteraksi dengan ChatGPT. Kasus berat semacam ini jadi peringatan keras soal pentingnya keamanan AI dibanding sekadar kecepatan rilis produk.
Versi terbaru ini dijanjikan bakal menghasilkan lebih sedikit respons berbahaya di situasi sensitif. Harapannya, update ini benar-benar memprioritaskan nyawa dan kesejahteraan manusia dibanding sekadar mengejar angka engagement semata.
Buat yang penasaran, GPT-5.2 sudah mulai digulirkan untuk pengguna berbayar dan tersedia via API. Para developer wajib banget coba mode "Berpikir" buat membuktikan apakah klaim canggihnya sesuai kenyataan atau tidak.
Persaingan teknologi AI sekarang makin ngebut dan tidak ada tanda-tanda melambat. Nah, kira-kira fitur mana yang paling kalian tunggu dari update ini, atau kalian malah ngeri sama perkembangannya? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung