JagoSatu.com - Kalau kalian pikir langkanya GPU itu buruk, siap-siap saja. Bayangkan, pusat data bakal melahap 70% stok chip memori dunia pada 2026. Ini bukan sekadar masalah server biasa, tapi krisis rantai pasok global yang nyata.
Dilansir oleh Tom's Hardware, kondisi industri saat ini sedang kacau balau. Stok RAM, SSD, bahkan hard drive lama mulai menipis. Saat kita asyik bahas chatbot AI, fondasi perangkat kerasnya justru pelan-pelan menghilang karena disikat perusahaan besar.
Masalah ini nggak cuma menyerang PC gaming kalian. Wall Street Journal memperingatkan dampaknya bakal merembet ke mana-mana, dari mobil sampai alat rumah tangga. Bayangkan susahnya beli mobil saat pandemi dulu, krisis kali ini bisa lebih parah.
Dikutip dari Tom's Hardware, kenaikan harga memori ini disebut sebagai "pengalokasian ulang permanen" demi AI. Produsen lebih memilih bikin chip server yang untungnya ribuan dolar daripada bikin chip murah untuk peralatan dapur sehari-hari yang marginnya tipis.
Kondisinya sudah selevel darurat menurut MS Hwang dari Counterpoint Research. Kapasitas produksi sampai tahun 2028 bahkan sudah diborong pemain besar. Lebih baik mulai jaga stok RAM kalian sekarang sebelum barangnya benar-benar hilang dari pasar.
Berdasarkan penelitian terbaru, biaya RAM bisa menyumbang 10% harga barang elektronik dan 30% harga smartphone. Kita sedang menuju masa depan di mana teknologi kelas "entry-level" bakal jadi barang mewah yang cuma bisa dibeli orang kaya.
Efeknya, harga speaker Bluetooth sampai kulkas pintar bakal melonjak drastis. Dilansir oleh Tom's Hardware, kenaikan modal RAM sebesar 100% bisa bikin harga jual perangkat jadi dua kali lipat. Kulkas pintar pun bakal terasa sangat mahal.
Karena masalah harga dan produksi ini, IDC memprediksi penurunan penjualan smartphone sebesar 5% dan PC sebesar 9% pada 2026. Dikutip dari Tom's Hardware, orang bukan nggak mau beli, tapi memang nggak sanggup atau barangnya langka.
Avril Wu dari TrendForce menyebut ini masa paling kacau dalam 20 tahun terakhir. Ini bukan sekadar siklus pasar biasa, tapi perubahan struktur industri yang memprioritaskan AI. Saat orang lama industri mulai khawatir, kita wajib waspada.
Raksasa memori kayak Samsung kabarnya sudah menaikkan harga sampai 60% hanya dalam satu bulan. Mereka meraup untung besar, sementara konsumen dan produsen kecil harus berebut sisa-sisa stok yang ada. Benar-benar tahun yang berat bagi kita.
Dikutip dari Tom's Hardware, brand besar kayak ASUS dan MSI sampai melakukan "panic buying" stok RAM demi kelancaran produksi. Kalau pemain besar saja sudah panik, dampaknya bakal sangat terasa sampai ke komunitas rakit PC rumahan.
Dilansir oleh Tom's Hardware, produksi memori lama mulai dihentikan demi mengejar teknologi HBM dan DDR5 yang lebih kencang. Industri otomotif yang masih butuh teknologi lama pun jadi terlantar karena perubahan fokus manufaktur yang sangat mendadak ini.
Kenyataan pahitnya, harga "normal" mungkin nggak bakal balik sampai tahun 2028 mendatang. Kondisi ini bisa mengubah cara kita memakai gadget. Mungkin saja nanti kita harus menyewa perangkat keras karena harga belinya sudah nggak masuk akal lagi.
Nasib rakit PC hemat pun kini tinggal kenangan. Jika biaya produksi terus melambung, produsen mungkin cuma bakal jual model "Pro" atau "Ultra" saja. Pilihan untuk rakitan budget terbatas perlahan bakal punah ditelan rakusnya industri AI.
Krisis memori dunia ini dipicu oleh haus kolektif akan tenaga AI. Dengan 70% RAM dikuasai pusat data, apa kita masih sanggup beli gadget baru tahun depan? Kira-kira, kalian rela membayar lebih mahal buat spek yang sama? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung