JagoSatu.com - Spotify lagi-lagi bikin kejutan kurang menyenangkan. Setelah sepuluh tahun stabil, mereka naikkan harga tiga kali dalam 30 bulan. Era langganan sepuluh dolar cuma tinggal kenangan. Ini sudah seperti pajak langganan wajib bagi penikmat musik dunia.
Mulai Februari, paket Premium Individual melonjak jadi $13 dari sebelumnya $12. Calon pelanggan baru sudah bisa melihat harga baru ini saat mendaftar. Rasanya setiap kali buka aplikasi, kita diminta bayar lebih untuk daftar putar yang itu-itu saja.
Dilansir oleh Ars Technica, paket pelajar juga naik jadi $7. Sementara itu, paket Duo menjadi $19 dan paket Keluarga tembus $22. Anak kos yang terbiasa hidup hemat kini harus putar otak demi anggaran "musik lo-fi buat belajar".
Hanya paket "Basic" seharga $11 yang sementara ini lolos dari kenaikan. Namun, paket ini cuma tersedia untuk pengguna tertentu sebagai opsi penurunan layanan. Ini taktik klasik agar paket yang lebih mahal terlihat seperti pengalaman langganan yang sesungguhnya.
Padahal, kenaikan harga terakhir baru terjadi Juli 2024 lalu. Singkatnya, biaya langganan melesat dari $10 ke $13 dalam hitungan tahun. "Normal baru" ini membuat biaya dengerin musik terasa lebih mahal dibanding saat zaman kejayaan kepingan CD dulu.
Dikutip dari Ars Technica, Spotify berkilah bahwa pembaruan harga ini sebanding sama kualitas layanan mereka dan menguntungkan artis. Mereka berargumen uang ekstra tersebut digunakan untuk berinovasi. Jargon "menguntungkan artis" selalu jadi alasan favorit membenarkan kenaikan tarif.
Sebagai bukti, mereka pamer fitur audio lossless dan studio podcast mewah di Hollywood. Masalahnya, fitur audio lossless sudah diberikan gratis oleh pesaing sejak lama. Inovasi ini terasa agak telat bagi pengguna yang sudah membayar semakin mahal tiap tahunnya.
Dilansir oleh Ars Technica, pakar industri memprediksi perubahan sistem royalti justru membuat musisi independen dibayar lebih sedikit. Sistem pembayaran saat ini dinilai lebih menguntungkan musisi besar. Cerita lama: yang sudah kaya makin kaya, yang independen justru gigit jari.
Padahal, Spotify mengklaim sudah membayar royalti sebesar $10 miliar pada tahun 2024. Mereka juga memberikan cara baru bagi podcaster untuk mencari uang di platform tersebut. Namun, angka sepuluh miliar itu harus dibagi ke jutaan artis di seluruh dunia.
Muncul gerakan "Jangan Streaming Fasisme" di dunia maya sebagai bentuk protes keras pengguna. Gerakan ini dipicu oleh keputusan Spotify menjalankan iklan perekrutan untuk badan imigrasi AS. Strategi promosi ini jelas mengundang kontroversi besar di kalangan pengguna serta musisi.
Dikutip dari Ars Technica, pemerintah kabarnya membayar $74.000 untuk kampanye iklan tersebut. Meski jumlahnya cuma uang receh bagi perusahaan raksasa, langkah ini dianggap merusak reputasi. Banyak pihak menyayangkan Spotify rela mempertaruhkan nama baik demi nilai kontrak tersebut.
Kontroversi berlanjut saat CEO Daniel Ek diketahui berinvestasi di perusahaan pertahanan militer Jerman. Hal ini memicu protes dari beberapa band ternama hingga menarik karya mereka. Ternyata, pengguna sekarang sangat peduli ke mana uang langganan mereka sebenarnya dialirkan.
Dilansir oleh Ars Technica, laporan terbaru justru menunjukkan laba kotor Spotify mencapai $1,56 miliar. Buktinya biar pun banyak yang protes, mereka tidak benar-benar pencet tombol "unsubscribe". Keuangan perusahaan justru terlihat jauh lebih sehat dan stabil dibanding sebelumnya.
Dengan lonjakan pengguna berbayar sebesar 12%, Spotify merasa punya kendali penuh menaikkan tarif. Mereka bertaruh posisi dominan di pasar membuat pengguna sulit berpaling. Namun, dengan harga semakin tinggi, mungkin beberapa orang akhirnya benar-benar mempertimbangkan untuk berhenti langganan.
Spotify bertaruh Anda tetap setia demi "inovasi" meskipun harganya terus meroket. Dengan tiga kenaikan harga dalam waktu singkat, "pajak musik" ini tampaknya akan menetap. Kira-kira, kalian tim yang tetap setia atau sudah mulai lirik aplikasi sebelah? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung