Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Drama di Balik OpenClaw: Ganti Nama 3 Kali Lalu Direkrut OpenAI

Toar Rotulung • 2026-02-20 17:24:11
Tampak Situs OpenClaw
Tampak Situs OpenClaw

JagoSatu.com - Peter Steinberger, otak di balik asisten AI viral OpenClaw, resmi cabut dari posisinya untuk gabung ke OpenAI. Perubahan nama mendadak jadi "OpenClaw" ternyata kode keras buat langkah ini. Kayak atlet yang pindah tim di tengah musim.

OpenClaw sendiri viral karena bukan asisten biasa yang cuma jago ngobrol. Dia bisa bantu beresin email sampai pesan tiket pesawat. Ini pergeseran besar dari AI "tukang chat" ke AI yang beneran bisa kerja di dunia nyata.

Steinberger umumin kabar ini pas Hari Valentine kemarin. Dia bilang sebulan terakhir ini rasanya kayak "angin puyuh" setelah proyeknya meledak di kalangan pengembang. Padahal, dulu proyek ini cuma dikenal dengan nama Moltbot sebelum akhirnya viral banget.

Daripada bangun startup besar sendiri, Steinberger lebih milih jadi "pembangun sejati". Dia nggak tertarik sama rutinitas kantoran yang kaku, dilansir oleh Mashable. Baginya, bikin inovasi keren di laboratorium jauh lebih seru ketimbang ngurusin manajemen perusahaan.

Misi barunya di OpenAI pun simpel: bikin agen AI yang bahkan bisa dipakai sama ibunya sendiri. Dia mau bikin alat yang nggak cuma buat "hacker", tapi berfungsi buat kebutuhan harian orang biasa agar hidup lebih mudah.

Steinberger percaya kalau gabung OpenAI adalah cara tercepat buat ngerubah dunia. Dengan masuk ke sana, dia dapet akses ke komputasi dan model raksasa buat ngembangin agen AI impiannya. Strategi yang masuk akal buat dapet dukungan GPU.

Steinberger mau OpenClaw tetep jadi proyek open-source dan bakal diubah jadi sebuah yayasan, menurut laporan Mashable. OpenAI dikabarkan sudah kasih dukungan kuat buat jagain kode proyek ini biar tetep bisa diakses gratis oleh semua orang.

Meskipun visi mereka sejalan, detail soal "komitmen kuat" OpenAI ini masih belum dibuka secara blak-blakan. Steinberger cuma bilang kalau masa depan agen AI miliknya selaras sama OpenAI. "Komitmen kuat" ini seringkali jadi istilah keren buat dibahas nanti.

Perusahaan induk Mashable, Ziff Davis, ternyata pernah gugat OpenAI di tahun 2025 soal hak cipta data, seperti dilansir oleh Mashable. Ini bikin bumbu drama makin kencang di tengah kabar perekrutan talenta hebat ini ke markas OpenAI.

Kabar ini dateng pas OpenAI lagi sibuk beresin model GPT-4o mereka. OpenAI juga mulai coba-coba pasang iklan yang bikin sebagian user ragu. Masuknya pakar open-source di tengah gempuran iklan tentu jadi sinyal yang cukup membingungkan.

Bekal Steinberger di perusahaan software sebelumnya, Nutrient, bikin dia punya jam terbang tinggi. Dia bawa semua ilmu pemrosesan dokumen buat bikin agen AI otonom yang bisa baca data kompleks. Dia pengembang yang beneran paham cara bikin produk.

Dikutip dari Mashable, nama "OpenClaw" adalah nama ketiga dalam beberapa minggu. Gonta-ganti nama secepat itu biasanya tanda ada drama hukum atau merek. Beralih ke nama yang lebih "kooperatif" mungkin jadi bagian dari langkah strategi besarnya.

Dengan gabung OpenAI, Steinberger bisa lepas beban jadi bos dan fokus penuh jadi engineer. Dia bakal kerja bareng tim yang lagi nyiapin model "generasi berikutnya". Intinya, dia dapet alat canggih, OpenAI dapet talenta yang hebat.

Kita liat aja nanti apakah OpenClaw beneran bisa mandiri jadi yayasan atau pelan-pelan bakal "ketularan" gaya OpenAI. Komunitas open-source sekarang lagi jagain terus proyek ini. Apakah logo lobsternya bakal tetep merah atau malah berubah hijau?

Intinya, Steinberger rela lepas status pendiri demi meja di OpenAI buat bikin agen AI "ramah ibu". Ini langkah besar buat dunia AI ke depannya. Kira-kira kalian berani nggak kasih izin AI akses email pribadi? (tmtiwow)

Editor : Toar Rotulung