Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Cheat Code Air Tak Terbatas! Mesin Peraih Nobel Ini Bisa Panen Air dari Gurun

Toar Rotulung • 2026-03-05 11:21:48

Prof. Omar Yaghi sedang menguji prototipe ciptaannya di Death Valley, Kalifornia
Prof. Omar Yaghi sedang menguji prototipe ciptaannya di Death Valley, Kalifornia

JagoSatu.com - Peraih Nobel Kimia 2025, Profesor Omar Yaghi, baru saja menciptakan "cheat code air tak terbatas" untuk dunia nyata. Ia mengembangkan mesin yang mampu memanen air bersih langsung dari udara kering. Upgrade hardware ini sangat krusial.

Bahkan di gurun kering, teknologi ini memanen air dengan kimia retikuler yang menyerap kelembapan atmosfer. Hasilnya seperti alat penguap kelembapan dari film Star Wars yang akhirnya jadi kenyataan di dunia kita. Keren banget, kan?

Dilansir oleh The Guardian, unit buatan perusahaan Atoco ini seukuran kontainer 20 kaki. Mesin ini ditenagai energi panas minimal, sehingga bisa beroperasi sepenuhnya di luar jaringan listrik tanpa bantuan pembangkit listrik yang besar.

Inspirasi Yaghi datang dari masa kecilnya di kamp pengungsi Yordania tanpa air mengalir. Seperti dilansir oleh The Guardian, pengalaman sulit itulah yang memicu inovasi mesin yang mampu menghasilkan 1.000 liter air setiap harinya.

Kapasitas 1.000 liter per hari adalah pencapaian besar untuk kemandirian sebuah komunitas. Jumlah tersebut cukup untuk menyokong desa kecil tetap bertahan, bahkan ketika wilayah di sekitarnya sedang dilanda musim kekeringan yang sangat hebat.

Dunia saat ini resmi memasuki era "kebangkrutan air global" menurut laporan The Guardian. Penemuan Yaghi hadir sebagai solusi praktis yang bisa menyelamatkan nyawa bagi jutaan orang yang selama ini krisis akses air minum bersih.

Negara kepulauan kecil menjadi "penguji beta" yang pas untuk teknologi ini. Di daerah seperti Grenada, mesin ini sangat dibutuhkan untuk membantu pulau-pulau yang hancur akibat terjangan badai ekstrem, salah satunya Badai Beryl.

Mengimpor air dengan kapal punya kendala "lag" yang parah dan biaya mahal. Memanen air langsung di lokasi adalah solusi high-speed yang sebenarnya untuk mengatasi kerentanan sistem infrastruktur air yang selama ini terpusat.

Ketika badai merusak pipa dan listrik, kontainer "air dalam kotak" ini tetap menjaga aliran air masyarakat. Sistem lama gampang tumbang saat bencana, jadi memiliki solusi terdesentralisasi seperti ini adalah langkah yang sangat cerdas.

Yaghi menyebut ini alternatif ramah iklim dibandingkan desalinasi yang membuang limbah garam beracun ke laut. Teknologi baru ini bahkan membuat cara lama desalinasi terasa seperti menggunakan hardware jadul yang sudah mulai ketinggalan zaman.

Selain ramah lingkungan, sistem ini menghindari risiko kontaminasi dari pipa-pipa kotor atau perantara distribusi. Menghilangkan perantara selalu jadi cara terbaik mengoptimalkan sistem, baik untuk urusan komponen PC maupun urusan distribusi air bersih.

Hal paling menarik adalah kemampuan mesin ini bekerja hanya dengan energi panas sekitar. Ini mengatasi single point of failure pada sistem terpusat yang sering kali tumbang setiap kali ada badai besar menghantam wilayah pesisir.

Yaghi mendeskripsikan karyanya sebagai ilmu pengetahuan untuk "membayangkan kembali materi". Tagline yang keren ini ia sampaikan sambil mendesak pemimpin dunia agar mempermudah jalan buat riset canggih demi masa depan planet yang lebih layak.

Dikutip dari The Guardian, teknologinya sudah siap, kini dunia tinggal butuh keberanian untuk melakukan scaling up. Gerak bareng lawan krisis iklim bukan lagi rencana masa depan, melainkan kebutuhan mendesak saat ini.

Profesor Yaghi baru saja memberikan solusi "Mode Dewa" untuk krisis air global lewat kontainer ajaibnya. Nah, kalau teknologinya sudah tersedia, kalian lebih pilih air hasil rekayasa molekuler ini atau tetap pakai air keran? (tmtiwow)

Editor : Toar Rotulung