Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Mau Matikan Remix AI di YouTube? Pikir-Pikir Dulu Karena Ini Efeknya

Toar Rotulung • 2026-03-05 11:37:12

Logo YouTube
Logo YouTube

JagoSatu.com - Langkah yang cukup berani diambil oleh platform ini, YouTube lagi bikin gebrakan yang makin unik pakai teknologi AI lewat eksperimen baru di Shorts. Fitur ini memungkinkan kreator pilihan memakai alat baru untuk mengolah video orang lain.

Tanpa perlu aplikasi tambahan, fitur "Add an object" bisa memasukkan benda lewat perintah teks ke video Shorts berdurasi 8 detik. Hal ini bikin proses kreatif makin efisien tanpa ribet bagi para kreator yang ingin berkreasi cepat.

Dilansir oleh 9to5Google, fitur "Reimagine" bahkan bisa mengubah satu frame jadi video baru yang utuh. Kita juga bisa unggah foto referensi untuk nentuin gaya visualnya, walaupun hasilnya mungkin terasa agak aneh bagi pemilik video aslinya.

Alat-alat canggih ini dikabarkan berjalan di atas model Veo 3 milik Google DeepMind untuk hasil yang lebih cepat. Sebagai transparansi, YouTube bakal kasih label AI otomatis pada konten yang terlihat sangat nyata sesuai kebijakan tahun 2025.

Dilansir dari informasi terbaru, perlu diketahui bahwa sejak 2022 semua video publik otomatis bisa di-remix. Kalau keberatan, kalian harus menggunakan sistem manual lewat YouTube Studio untuk mematikan fiturnya karena skema yang diterapkan bersifat otomatis aktif.

Sayangnya, mematikan fitur AI ini punya efek samping yang cukup merepotkan. Dilansir oleh Phandroid, menonaktifkan remix AI bakal memblokir semua alat remix lainnya seperti Collab atau Cut. Kreator dipaksa memilih antara kontrol konten atau viralitas.

Jika kreator mematikan akses di kemudian hari, YouTube bakal menghapus semua hasil remix yang memakai video mereka. Ini memang melindungi hak cipta, tapi berisiko mematikan promosi gratis dari video-video derivatif yang sebenarnya bisa membantu channel tumbuh.

Respons awal di Reddit menunjukkan antusiasme terhadap berbagai kemungkinan kreatif yang baru. Namun, banyak juga yang khawatir soal hilangnya kendali atas video mereka ketika masuk ke dalam pengolahan model generatif yang terkadang hasilnya tidak terduga.

Berbeda dengan TikTok yang bisa blokir per video, YouTube menerapkan pengaturan izin ini untuk seluruh channel. Keunggulan teknologi DeepMind milik Google ini jelas menjadi kekuatan tersendiri bagi YouTube buat menghadapi persaingan dengan Instagram Reels.

Dilansir oleh PhoneArena, langkah ini adalah strategi YouTube buat menyaingi dominasi TikTok di pasar Amerika Serikat. YouTube pengin bikin proses edit tingkat profesional jadi semudah mengetik satu kalimat saja untuk menembus batasan teknis mengedit.

Muncul di menu Remix, tombol baru ini hadir berdampingan dengan fitur Green Screen yang sudah ada. Meski YouTube mengklaim tujuannya membantu mewujudkan ide, rencana perluasan fitur ini ke lebih banyak pengguna masih menjadi misteri.

Dikutip dari PPC Land, sisi etis fitur ini masih jadi perdebatan karena batas hak kekayaan intelektual jadi makin abu-abu. Cuma dapat "eksposur" tanpa bagi hasil langsung dari pendapatan video remix rasanya sudah jadi cerita lama.

Rencananya fitur ini rilis di pasar berbahasa Inggris dulu sebelum ekspansi global nantinya. Namun, kreator di Uni Eropa dan Inggris sementara dikecualikan karena adanya regulasi AI lokal yang sangat ketat di wilayah hukum mereka.

YouTube juga lagi ngetes fitur lain seperti balasan komentar lewat suara dan AI percakapan buat TV. Semuanya diarahkan supaya platform ini jadi lebih interaktif dan memudahkan pengguna dalam membuat konten tanpa proses yang rumit.

Strategi AI remix ini jadi taruhan besar YouTube buat memenangkan perang video pendek. Kira-kira menurut kalian, fitur ini bakal bikin konten makin kreatif atau malah makin membosankan karena penuh dengan video buatan robot? (tmtiwow)

Editor : Toar Rotulung