JagoSatu.com - Nvidia bener-bener sudah merajai panggung kartu grafis PC saat ini. Data pasar terbaru menunjukkan Team Green menguasai 90 persen pasar, sementara AMD merosot tajam di bawah 10 persen. Dominasi ini jujur aja bikin ngeri buat harga jangka panjang.
Di tengah dominasi hijau, era persaingan tiga pemain besar resmi berakhir dengan konsumen yang terus berbondong-bondong pindah ke Nvidia. Padahal, persaingan sehat sangat penting demi menjaga inovasi. Saat ini, para kompetitor Nvidia justru terlihat dalam kondisi kritis.
Dilansir oleh PCWorld, Nvidia mengendalikan lebih dari 90% pasar pada kuartal keempat 2025. Pergeseran masif ini membuktikan bahwa strategi "cukup baik" dari AMD ternyata tidak sanggup membendung kekuatan Nvidia yang semakin sulit dikejar oleh siapapun.
Analis pasar di JPR menyebut kenaikan biaya memori dan tarif baru sebagai penyebab utama lesunya industri. Tampaknya, momen liburan tahun baru kemarin gagal menyelamatkan penjualan karena kenaikan harga yang sangat tinggi di kasir bagi para pembeli.
Meskipun secara tahunan pengiriman kartu grafis meningkat 36 persen, namun kuartal akhir 2025 justru turun 11,5 persen. Melihat penurunan penjualan di musim liburan tentu menjadi sinyal merah bagi industri perangkat keras PC secara global kedepannya.
Dikutip dari laporan PCWorld, persentase PC desktop dengan kartu grafis tambahan melorot ke angka 55 persen saja. Banyak konsumen akhirnya memilih grafis terintegrasi karena harga GPU kelas menengah sekarang sudah setara dengan uang muka mobil bekas.
Survei Steam bulan Februari mengonfirmasi perubahan yang luar biasa ekstrem ini. Nvidia GeForce RTX 5070 sukses merebut pangsa pasar 9,12 persen sendirian. Kartu ini resmi jadi "Raja Baru" kelas menengah, walaupun harganya sukses membuat dompet harus dikuras.
Ironisnya, produk AMD paling populer di Steam hanyalah label generik "Radeon Graphics" sebesar 1 persen. Ini menandakan kehadiran AMD di desktop mulai memudar, karena mayoritas penggunanya ternyata cuma menggunakan chip grafis terintegrasi di laptop saja.
AMD sempat memberi sinyal di tahun 2024 bahwa mereka tidak akan mengejar Nvidia di pasar kelas atas. Seperti dikutip dari PCWorld, AMD ingin fokus pada pasar mainstream. Sayangnya, meninggalkan segmen flagship justru berisiko merusak prestise brand mereka.
Tim Merah bahkan hampir tidak menyinggung GPU sama sekali pada presentasi CES 2025 dan 2026. Sepertinya AMD mulai perlahan meninggalkan akar komunitas mereka di pasar antusias desktop yang selama ini telah membesarkan nama perusahaan tersebut.
Perjuangan Intel buat masuk ke persaingan juga masih tersendat, bahkan nama mereka hampir tidak muncul di data GPU diskrit terbaru. Eksperimen kartu grafis "Arc" milik mereka sejauh ini belum berhasil menarik minat banyak gamer di dunia.
Dikutip dari PCWorld, situasinya terlihat semakin suram karena AMD diprediksi bakal angkat kaki dari pasar GPU diskrit. Sekarang kita resmi hidup di "Dunia Nvidia," di mana konsumen seolah hanya membayar biaya berlangganan untuk tetap bisa bermain.
Beberapa gamer akhirnya memilih bertahan dengan kartu lama atau pindah ke konsol demi menghindari harga komponen PC. Dengan turunnya minat pada GPU tambahan sebesar 12,3 persen, eksistensi "PC Master Race" pun perlahan mulai terancam semakin mengecil.
Jika Nvidia terus melaju sendirian tanpa lawan di kelas atas, mereka bebas menentukan harga sesuka hati. Kita mungkin akan segera melihat era di mana kartu grafis kelas menengah dibanderol dengan harga yang sangat tidak masuk akal.
Nvidia sudah memenangkan perang ini secara telak. Dengan mundurnya AMD dan Intel, masa depan gaming PC akan terasa sangat mahal. Kira-kira, kalian bakal tetap setia rakit PC atau malah melirik opsi lain melihat kondisi ini? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung