JagoSatu.com - Dunia medis baru saja membuktikan kalau fiksi ilmiah bisa jadi nyata. Seorang ahli bedah di London sukses mengoperasi pasien kanker di Gibraltar yang jaraknya 1.500 mil. Ini tuh level tertinggi dari "kerja remote" saat ini.
Prosedur ini dilakukan Profesor Prokar Dasgupta di The London Clinic terhadap pasien bernama Paul Buxton. Bayangkan betapa kerennya bisa menjalani operasi penyelamatan nyawa tanpa dokter harus berada di negara yang sama dengan Anda.
Dilansir oleh TechSpot, Profesor Dasgupta memakai sistem robotik Toumai untuk mengendalikan lengan robot dan kamera 3D. Dia duduk santai di konsol Inggris, tapi memandu setiap gerakan bedah dengan presisi tinggi di Gibraltar.
Kita mungkin kesal kalau mouse terasa "delay", tapi operasi ini cuma punya latensi 60 milidetik. Angka ini bahkan lebih baik dari "ping" kebanyakan game online, membuat operasi terasa berjalan secara real-time.
Tim medis lokal di Gibraltar tetap siaga jika koneksi mendadak putus. Untungnya, jaringan tetap stabil selama operasi berlangsung. Memiliki tim cadangan ini ibarat pakai UPS buat nyawa manusia yang mutlak diperlukan.
Pasien mengaku merasa fantastis beberapa hari setelah operasi tersebut. Dengan tetap berada di Gibraltar, dia tidak perlu repot melakukan perjalanan jauh. Pulih di rumah sendiri menjadi faktor krusial buat kesehatan mental pasien.
Teknologi ini sebenarnya sudah lama dikembangkan sejak "Operasi Lindbergh" tahun 2001. Namun, kesuksesan uji coba antara Roma dan Beijing menunjukkan bahwa teknologi ini akhirnya lulus dari tahap "Early Access" menuju versi stabil.
Tujuan utamanya adalah membantu pasien di daerah terpencil yang sulit mendapatkan dokter spesialis. Konsep "Doctor as a Service" ini bisa memindahkan keahlian dokter terbaik dunia ke tempat yang paling membutuhkan secara instan.
Sistem Toumai ini juga sudah terbukti sukses digunakan untuk operasi prostat di Afrika. Keberhasilan global ini menunjukkan kalau kita sudah mulai bergerak menuju layanan medis nyata yang bisa digunakan di seluruh dunia.
Dikutip dari TechSpot, masih banyak kendala infrastruktur, regulasi, dan biaya serat optik yang mahal. Membangun internet "anti-gagal" untuk kebutuhan bedah tentu jauh lebih menantang daripada sekadar memasang kabel internet biasa.
Karena hambatan logistik dan hukum ini, operasi jarak jauh tidak akan langsung menjadi prosedur rutin. Teknologinya memang sudah luar biasa, tapi aturan mainnya masih perlu mengejar kecanggihan perangkat keras yang ada.
Kamera 3D HD pada sistem Toumai memberikan pandangan yang sangat jernih bagi ahli bedah. Monitor digital ini justru memberikan detail yang jauh lebih tajam daripada melihat langsung dengan mata manusia saat operasi.
Keberhasilan ini menjadikan The London Clinic sebagai rumah sakit pertama di Inggris yang sukses melakukan bedah jarak jauh. Ini adalah pencapaian yang sangat jempolan dan menjadi sinyal penting bagi dunia medis.
Seiring perkembangan 5G, hambatan latensi diprediksi akan terus berkurang. Ini membuka pintu bagi prosedur medis yang lebih kompleks. Nantinya, jarak cuma sekadar angka di menu "settings" yang tidak lagi menjadi penghalang.
Bedah jarak jauh baru saja membuktikan kesiapannya di level tertinggi dengan menyelamatkan nyawa dari jarak ribuan mil. Nah, menurut kalian, lebih tenang dioperasi dokter yang ada di ruangan atau dokter spesialis via internet? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung