JagoSatu.com - Hisense sudah kelewat batas. Pengguna TV murahnya lapor ada iklan nggak bisa di-skip pas ganti input atau nyalakan TV. Memang layar beranda berantakan itu biasa, tapi membajak port HDMI buat iklan itu benar-benar mengesalkan.
Masalah ini menimpa seri murah dengan sistem VIDAA atau Home OS. Update ini kabarnya meluncur sepihak, bahkan buat user yang sudah mematikan opsi iklan. Kalau "murah" artinya "nggak nyaman", mending pikir-pikir lagi soal promonya.
Dilansir oleh Tom's Hardware, "tes iseng" ini sebenarnya sudah ada sejak setahun lalu. Beberapa pengguna menyadari iklan di menu input sejak 2022. Apple dan Samsung memang punya iklan, tapi Hisense memperlakukan ruang tamu seperti game gratisan.
Pengguna kini putus asa mencari cara mematikan pop-up tersebut. Solusinya mulai dari ganti server DNS sampai mencabut kabel internet selamanya. Kalau harus mengisolasi TV cuma buat ganti volume tanpa iklan, artinya produk itu memang bermasalah.
Ada solusi unik, yaitu kirim email ke customer support Australia berisi ID TV untuk mematikan iklan manual. Setelah dikirim, iklan benar-benar berhenti. Ini membuktikan Hisense punya kendali penuh atas layar TV kalian dari sisi server mereka.
Dikutip dari Tom's Hardware, Hisense mengklaim iklan ini cuma bagian dari "uji coba pasar Spanyol". Mereka bersikeras pengujian ini nggak mengganggu penggunaan normal. Padahal, dipaksa nonton iklan saat ingin main PlayStation itu sangat nggak normal.
Meski dibilang cuma "uji coba regional" yang sudah selesai, keluhan serupa muncul dari Inggris hingga Jerman. Sepertinya jangkauannya jauh lebih luas dari pernyataan resmi mereka. Bahasa halus perusahaan ini cuma buat menutupi tes reaksi konsumen.
Dikutip dari Tom's Hardware, daftar negara yang mengeluh cocok dengan wilayah perjanjian iklan VIDAA dan perusahaan Teads. Ini membuktikan infrastruktur iklan sudah siap secara global. Ini bukan kebetulan, melainkan sumber pendapatan yang sudah direncanakan matang.
Pernyataan resmi Hisense berulang kali menyebut pengguna tetap bisa memakai HDMI tanpa gangguan. Namun, laporan terbaru justru membantah hal itu karena user dipaksa nonton iklan saat pindah input. Kalau ucapan perusahaan beda dengan kenyataan, percayalah mata kalian.
Hisense mengaku berkomitmen pada pengalaman pengguna yang transparan dan bebas memilih. Namun, iklan ini muncul tiba-tiba tanpa opsi menolak di awal. Kebebasan memilih seharusnya nggak mewajibkan kita kirim email ke Australia cuma buat benerin TV.
Situasinya makin parah di Spanyol, di mana iklan muncul saat user cuma pindah saluran TV biasa. Bayangkan mau nonton berita tapi harus lihat iklan tiga puluh detik dulu. Itu bukan Smart TV, tapi papan iklan digital di rumah.
Dilansir oleh Tom's Hardware, kalau kalian cari kenyamanan, mending hindari perangkat Hisense untuk sementara. Risiko "kejutan buruk" saat melakukan hal dasar terlalu tinggi. Hidup terlalu singkat cuma buat nunggu iklan selesai sebelum mulai main game.
Rebranding "Home OS" sepertinya cuma ganti kemasan pada platform yang fokus cari cuan lewat iklan. Lisensi mereka dengan merek seperti Toshiba dan Akai bikin "kiamat iklan" ini berpotensi menyebar luas. Penurunan kualitas produk budget makin terasa nyata.
User yang paham teknologi mungkin bisa memblokir iklan lewat router, tapi pengguna awam cuma bisa pasrah. Ini menciptakan standar ganda bagi konsumen. Padahal, televisi seharusnya cuma menjadi layar biasa, bukan alat untuk mengumpulkan data pengguna.
Hisense baru saja mengubah ruang tamu menjadi tempat iklan yang menyebalkan lewat dalih "uji coba". Strategi ini jelas merugikan konsumen demi keuntungan tersembunyi. Kira-kira, kalian bakal tetap melirik TV dengan sistem seperti ini? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung