JagoSatu.com - Pengungkapan DLSS 5 dari Nvidia dapet reaksi keras dari komunitas gamer. Banyak yang nggak suka karena teknologi rendering baru ini malah bikin visual game jadi aneh gara-gara AI. Nvidia harus sadar kalau gamer itu bayar buat menikmati karya seni aslinya.
Internet punya pendapat berbeda soal DLSS 5 yang menggunakan AI generatif untuk mengubah pencahayaan dan tekstur, meski Nvidia mengklaim ini level baru fotorealisme. Ingat, cuma karena AI bisa "mengarang bebas" banyak piksel, bukan berarti itu bagian dari dunia gamenya.
Para kritikus menyebut visual baru ini sebagai tampilan kinclong yang terasa palsu dan merusak atmosfer game seperti Resident Evil: Requiem, dilansir oleh Ars Technica. AI seolah menyuntikkan material baru pada rambut dan kulit berdasarkan pemahamannya sendiri yang malah terlihat aneh.
Reaksi negatif pun bermunculan, banyak komentator membandingkan hasilnya dengan visual karakter yang terlalu mulus tapi malah kelihatan nggak alami. Gamer menunjukkan kalau AI sering bikin bayangan jadi rata, padahal dalam game horor, bayangan gelap itu elemen yang sangat penting.
Beberapa pengembang menyebutnya sebagai "filter AI nggak bermutu" yang menghapus visi artistik pembuat game. Seorang CEO bahkan khawatir kalau generasi mendatang mungkin menganggap visual sampah hasil AI ini sebagai sesuatu yang normal. Padahal, seni itu soal pilihan rasa.
Digital Foundry mencatat kalau demo teknologi ini ternyata butuh dua kartu grafis RTX 5090 cuma buat menjalankan pemrosesan DLSS 5, dilansir oleh Ars Technica. Strategi Nvidia ini dianggap cukup berani: butuh perangkat keras selangit cuma buat visual yang dihujat.
Nvidia sekarang lagi sibuk memberikan klarifikasi dan bersikeras kalau DLSS 5 itu bukan sekadar filter. Mereka mengklaim kalau pihak studio game punya kendali penuh buat mengatur intensitasnya atau bahkan mematikan fitur tersebut jika dirasa nggak cocok.
Bethesda juga buka suara dan menyatakan kalau tim seni mereka bakal tetap mengatur pencahayaan agar terlihat sesuai versi aslinya. Mereka menekankan fitur ini bakal bersifat opsional, karena mereka tahu banyak pemain yang lebih suka tampilan asli buatan tangan.
Lucunya, internet malah menjadikan "DLSS 5 On" sebagai meme untuk menggambarkan visual yang rusak parah, dikutip dari Ars Technica. Ini tentu jadi mimpi buruk buat pemasaran teknologi yang awalnya digadang-gadang sebagai lompatan besar dalam dunia grafis komputer.
Bahkan staf di berbagai media teknologi mulai menyadari kalau integrasi AI ini sudah mencapai titik jenuh. Tren pusat data yang memaksakan fitur AI ke semua lini akhirnya mulai menghadapi kenyataan pahit dari sisi pengguna aslinya, yaitu para gamer.
Meskipun Jensen Huang mengklaim teknologi ini mempertahankan kontrol seniman, hasil awalnya justru menunjukkan hal sebaliknya. Rendering berbasis saraf ini tampaknya lebih mengutamakan detail pori-pori kulit beresolusi tinggi daripada komposisi gambar yang punya jiwa dan estetika kuat.
Gamer khawatir ini jadi awal era visual yang serba seragam dan membosankan. Tanpa sentuhan pencahayaan buatan tangan, AI bikin setiap game terlihat seperti dibuat dari mesin yang sama. Kita nggak butuh semua game terlihat seperti demo teknologi generik.
Nvidia punya waktu sampai musim gugur buat berbenah sebelum DLSS 5 diluncurkan secara resmi, dilansir oleh Ars Technica. Mereka harus membuktikan kalau teknologi ini benar-benar menghargai visi artisitik, bukan cuma sekadar hasil polesan AI yang asal-asalan dalam kotak mewah.
Perbandingan dengan efek visual film pun terasa berlebihan karena masalah visual yang nggak alami ini. Hasilnya terasa asing dan nggak nyambung sama inti game. Banyak yang lebih memilih resolusi rendah dengan seni bagus daripada visual 4K abal-abal.
DLSS 5 Nvidia kini menghadapi tantangan berat karena gamers nggak mau mengorbankan kualitas seni demi AI. Tahun 2026 jadi saksi kalau visual buatan AI belum tentu disukai. Menurut kalian, mending grafik asli atau hasil polesan AI? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung