Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gawat! Ekonomi Dunia 2025 di Ramal Melambat, Dompet Kita Bakal Kena Dampaknya?

A

Photo
Photo


Advertisement

Jagosatu.com - Kabar kurang enak datang dari situasi ekonomi di seluruh dunia yang katanya sedang tidak baik-baik saja tahun ini.

Laporan terbaru dari PBB lewat badan bernama UNCTAD baru saja memberikan peringatan serius bagi banyak negara.

UNCTAD atau Konferensi PBB mengenai Perdagangan dan Pembangunan adalah organisasi yang mengurusi urusan dagang antarnegara di dunia.

Advertisement

Menurut laporan Trade and Development Report 2025 yang dirilis UNCTAD, pertumbuhan ekonomi global diprediksi bakal melambat ke angka 2,6 persen.

Padahal tahun lalu ekonomi dunia masih bisa tumbuh lumayan di angka 2,9 persen, tapi sekarang malah turun "gigi".

Penyebab utamanya adalah kebijakan suku bunga yang masih tinggi di negara-negara maju seperti Amerika Serikat.

Suku bunga itu ibarat biaya sewa uang yang harus dibayar kalau kita atau negara meminjam uang ke bank.

Kalau suku bunga tinggi, orang jadi malas belanja dan perusahaan jadi takut meminjam uang untuk modal usaha.

Dilansir dari laman resmi UNCTAD, Sekretaris Jenderal UNCTAD menyebutkan bahwa inflasi yang belum turun juga jadi "musuh" utama tahun ini.

Inflasi adalah kondisi di mana harga-harga barang naik terus-menerus sehingga uang yang kita punya jadi terasa kurang nilainya.

Situasi ini membuat negara-negara berkembang seperti Indonesia harus ekstra hati-hati dalam mengatur keuangan negara.

Masalah lainnya adalah utang negara-negara di dunia yang semakin menumpuk pasca pandemi beberapa tahun lalu.

Ini ibarat kamu punya banyak cicilan tapi gaji bulanan kamu tidak naik-naik, pasti pusing bukan main.

Gangguan pada rantai pasok juga masih sering terjadi karena ada beberapa konflik antarnegara di wilayah Eropa dan Timur Tengah.

Rantai pasok itu adalah perjalanan barang dari pabrik sampai ke tangan kita, misalnya dari petani gandum sampai jadi roti di warung.

Kalau rantai pasok terganggu, biaya kirim barang jadi mahal dan ujung-ujungnya harga barang di toko ikut naik.

Meski begitu, para ahli ekonomi menyarankan kita tidak perlu panik berlebihan tapi harus mulai bijak mengatur uang.

Anak muda disarankan untuk mulai menabung dana darurat dan tidak boros jajan kopi kekinian setiap hari.

Pemerintah Indonesia sendiri optimis masih bisa bertahan karena pasar dalam negeri kita sangat kuat dan orang Indonesia hobi belanja.

Kita berharap semoga ramalan ini tidak membuat harga kuota internet atau jajanan sekolah ikutan naik tahun depan.

Mari kita pantau terus perkembangan ekonomi ini supaya kita siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.

(J)

Advertisement

Artikel Terkait

Fenomena Doom Spending Muncul Saat Masa Depan Finansial Terasa Tidak Pasti

Fenomena Doom Spending Muncul Saat Masa Depan Finansial Terasa Tidak Pasti

Doom spending menjadi fenomena ketika kecemasan terhadap masa depan mendorong perilaku belanja impulsif yang berisiko terhadap kondisi finansial jangka panjang.

Emas Perhiasan-Pangan Pendongkrak Inflasi April

Emas Perhiasan-Pangan Pendongkrak Inflasi April

Laju inflasi tahunan pada April 2026 tercatat sebesar 2,42 persen. Kenaikan harga terutama dipicu kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta perawatan pribadi dan jasa lainnya, dengan komoditas utama pangan dan emas..

Deflasi Komoditas Pangan Tahan Laju Inflasi April 2026 di Angka 0,13 Persen

Deflasi Komoditas Pangan Tahan Laju Inflasi April 2026 di Angka 0,13 Persen

Penurunan harga daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai menjadi penahan utama laju inflasi April 2026 yang tercatat sebesar 0,13 persen secara bulanan, menurut data BPS.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer