Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Tembus Rp17.105 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah dan Inflasi AS Jadi Beban

A
Nilai tukar rupiah tertekan oleh sentimen global, termasuk konflik di Timur Tengah dan kekhawatiran inflasi AS.
Nilai tukar rupiah tertekan oleh sentimen global, termasuk konflik di Timur Tengah dan kekhawatiran inflasi AS.

Advertisement

Jagosatu.com - Nilai tukar rupiah kembali tertekan secara signifikan, menembus level Rp17.105 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu, 8 April 2026. Pelemahan ini menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang terlemah di Asia, dipicu oleh sentimen negatif dari eskalasi konflik di Timur Tengah serta kekhawatiran terhadap data inflasi AS.

Menurut laporan Kontan.co.id pada Rabu (8/4/2026), level Rp17.105 per dolar AS ini menandai rekor terburuk bagi rupiah dalam periode tersebut. Kondisi ini juga diperkuat oleh data Bloomberg pada Selasa (7/4/2026) pukul 15.30 WIB yang menunjukkan rupiah sempat berada di level Rp17.100 per dolar AS setelah sebelumnya dibuka melemah.

Pelemahan kurs rupiah ini menempatkannya di posisi kedua terburuk di antara mata uang utama Asia lainnya terhadap dolar AS, hanya sedikit lebih baik dari peso Filipina yang melemah 0,46 persen. Sementara itu, dolar Taiwan dan ringgit Malaysia juga mengalami pelemahan tipis, seperti dilansir dari Katadata pada 7 April 2026.

Advertisement

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, seperti dikutip dari Antara, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah utamanya dipicu oleh potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah. Ketegangan ini menimbulkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasar global.

Ibrahim menambahkan, investor kini bersiap menghadapi potensi gangguan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, yang telah memperketat ekspektasi pasokan minyak dan meningkatkan premi risiko di seluruh pasar. Situasi ini secara langsung berdampak pada harga minyak global yang cenderung melonjak.

Lonjakan harga minyak mentah akibat konflik geopolitik berpotensi semakin membebani anggaran pemerintah Indonesia, terutama jika pemerintah belum menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyampaikan kekhawatiran ini, sebagaimana diberitakan Kumparan.com pada Selasa (7/4/2026).

Advertisement

Selain faktor geopolitik, pasar juga menantikan rilis data inflasi penting dari AS yang dijadwalkan pada Jumat, 10 April 2026. Data ini diharapkan dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (Fed), yang sangat memengaruhi pergerakan dolar AS dan mata uang lainnya.

Pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir memang menunjukkan tren pelemahan. Pada Senin, 30 Maret 2026, rupiah dibuka melemah di level Rp16.981 per dolar AS dan ditutup lebih lemah lagi di Rp17.002 per dolar AS, menurut data Bisnis.com.

Sehari sebelumnya, pada Jumat, 27 Maret 2026, rupiah dibuka melemah di Rp16.924 per dolar AS dan ditutup pada level Rp16.979 per dolar AS. Meskipun sempat menguat tipis pada Selasa, 31 Maret 2026, dengan pembukaan di Rp16.995 per dolar AS, tren pelemahan kembali dominan.

Bahkan, pada Rabu, 1 April 2026, rupiah sempat menguat tipis menyentuh Rp16.983 per dolar AS yang ditopang oleh surplus neraca dagang. Namun, sentimen global yang memburuk kembali menyeret nilai tukar rupiah ke level yang lebih rendah dalam beberapa hari berikutnya.

Advertisement
Editor : ALengkong
Sumber : kursdollar.org, bisnis.com, katadata.co.id, Kontan, Kumparan

Artikel Terkait

Vanda Sarundajang: FPSL Dorong Bitung Menuju Kota Wisata

Vanda Sarundajang: FPSL Dorong Bitung Menuju Kota Wisata

FPSL merupakan sarana melestarikan budaya, serta peningkatan ekonomi masyarakat melalui sektor UMKM serta Ekraf.

Pemerintah Kejar Pertumbuhan 5,8-6,5 Persen di 2027, Andalkan Investasi dan Konsumsi

Pemerintah Kejar Pertumbuhan 5,8-6,5 Persen di 2027, Andalkan Investasi dan Konsumsi

Pemerintah mulai menyiapkan fondasi untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dalam dua tahun ke depan. Pada 2027, ekonomi nasional dipatok tumbuh di kisaran 5,8-6,5 persen sebagai tahap awal menuju....

Biaya Admin Marketplace Wajib Transparan hingga Prioritaskan UMKM Lokal

Biaya Admin Marketplace Wajib Transparan hingga Prioritaskan UMKM Lokal

Pemerintah memperketat tata kelola perdagangan digital di tengah pertumbuhan pesat industri e-commerce nasional. Kementerian Perdagangan (Kemendag) menargetkan revisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 31...

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer