Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Indonesia Guyur Rp371 Triliun untuk Olah Hasil Pertanian! Siap Ciptakan 8 Juta Lapangan Kerja Baru

A

Photo
Photo


Advertisement

Jagosatu.com - Pemerintah Indonesia siap menggelontorkan dana besar senilai sekitar Rp371 triliun atau setara 22 miliar dolar AS untuk memperkuat sektor pengolahan hasil pertanian.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya besar pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.

Menurut Reuters, investasi ini akan difokuskan pada sektor pangan, peternakan, hortikultura, dan perkebunan.

Advertisement

Artinya, komoditas seperti tebu, kakao, dan kacang mete akan mendapatkan perhatian khusus untuk diolah menjadi produk bernilai tinggi.

Pemerintah menilai, dengan mengolah hasil pertanian di dalam negeri, Indonesia bisa mendapatkan keuntungan ekonomi lebih besar.

Advertisement

Selain itu, proyek ini diharapkan menciptakan hingga 8 juta lapangan kerja baru di berbagai daerah.

Program besar ini juga disebut-sebut menjadi salah satu langkah penting menuju target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

Investasi ini tidak hanya berasal dari pemerintah, tetapi juga melibatkan sektor swasta dan investor asing.

Menurut Menteri Pertanian, program tersebut akan memperkuat rantai pasok nasional dan menekan impor bahan makanan.

Selain investasi utama, pemerintah juga menyiapkan subsidi sekitar Rp20 triliun untuk mendukung produksi ayam dan telur.

Subsidi tersebut akan digunakan untuk mendukung program makan gratis bagi sekitar 70 juta pelajar di seluruh Indonesia.

Program makan gratis ini diharapkan bisa meningkatkan gizi anak-anak sekaligus mendorong permintaan terhadap produk lokal.

Dengan meningkatnya permintaan domestik, para peternak dan petani akan mendapatkan pasar yang lebih stabil.

Namun, pemerintah juga diingatkan agar tidak hanya fokus pada sisi produksi, tetapi juga memperhatikan kualitas dan standar produk olahan.

Pengolahan hasil pertanian membutuhkan fasilitas dan teknologi modern agar produk dapat bersaing di pasar global.

Tantangan terbesar dari investasi ini adalah masalah logistik dan infrastruktur di daerah-daerah penghasil bahan baku.

Beberapa wilayah masih memiliki keterbatasan akses jalan dan listrik, yang dapat memperlambat proses distribusi.

Meski begitu, pemerintah menyatakan telah menyiapkan roadmap pembangunan fasilitas pengolahan di berbagai provinsi.

Jika program ini berjalan lancar, Indonesia bisa menjadi salah satu pusat pengolahan pertanian terbesar di Asia Tenggara.

Langkah ini juga sejalan dengan misi pemerintah untuk menjadikan sektor pertanian lebih mandiri dan berkelanjutan.

Dengan strategi ini, bukan tidak mungkin produk olahan Indonesia akan makin dikenal di pasar internasional.

Program ini juga akan membantu menjaga stabilitas harga pangan di dalam negeri, terutama saat terjadi fluktuasi global.

Masyarakat pun diharapkan ikut mendukung dengan membeli dan menggunakan produk lokal hasil olahan dalam negeri.

(J)

Advertisement

Artikel Terkait

Pangan Nasional Aman Hadapi El Nino, Prabowo Apresiasi Kerja Mentan Amran Sulaiman dan Petani

Pangan Nasional Aman Hadapi El Nino, Prabowo Apresiasi Kerja Mentan Amran Sulaiman dan Petani

Presiden Prabowo menegaskan capaian tersebut tidak lahir dari kondisi yang mudah. Ketika pemerintahannya menerima mandat, petani masih mengh

Di Tengah Tantangan Iklim, Produksi Beras Nasional Diperkirakan Tetap Aman hingga September 2026

Di Tengah Tantangan Iklim, Produksi Beras Nasional Diperkirakan Tetap Aman hingga September 2026

Proyeksi produksi beras yang meningkat tersebut ditopang oleh kinerja produksi padi yang juga menunjukkan tren positif. Peningkatan produksi padi itu sejalan dengan bertambahnya luas panen sepanjang Januari–September 20

Mentan Amran Dorong Koperasi Merah Putih Pangkas Middleman dan Selamatkan Potensi Rp50 Triliun untuk Rakyat

Mentan Amran Dorong Koperasi Merah Putih Pangkas Middleman dan Selamatkan Potensi Rp50 Triliun untuk Rakyat

Satgas Pangan Polri mencatat, sepanjang periode 2024 hingga 2025 telah menangani 93 kasus mafia pangan dengan total 77 tersangka, terdiri dari 46 kasus beras, 27 kasus pupuk, 16 kasus minyak goreng, dan 4 kasus pegawai i

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer