JAGOSATU.COM - Yayasan Jepang Jakarta, bekerja sama dengan Galeri Nasional Indonesia (GNI) dan Badan Museum dan Warisan Budaya Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, sedang mengadakan pameran yang bertajuk "NINGYŌ: Seni dan Keindahan Boneka Jepang" untuk memperkenalkan sejarah dan budaya boneka Jepang.
Pameran ini mempersembahkan berbagai jenis boneka Jepang dari empat sudut pandang: boneka sebagai doa untuk kesehatan anak-anak, boneka sebagai karya seni, boneka sebagai bagian dari seni masyarakat, dan penyebaran budaya boneka di Jepang.
Sebanyak 67 karya boneka tradisional dan modern dipamerkan dalam pameran ini, lengkap dengan penjelasan sejarah, fungsi, dan signifikansi budaya dalam masyarakat Jepang.
Di antara karya-karya yang dipamerkan, terdapat lima karya yang dipilih oleh kurator Mita Kakuyuki, Kurator Museum Nasional Tokyo, antara lain:
- 2_Amagatsu
Seniman: Mochizuki Reikou
Tahun: 2020
"Boneka ini digunakan untuk mendoakan kesehatan bayi. Boneka-boneka ini disiapkan sebelum bayi lahir dan diletakkan dekat bantal bayi sebagai pengganti bayi yang memalingkan roh jahat agar tidak mengganggu bayi. Amagatsu telah digunakan oleh keluarga kekaisaran Jepang selama lebih dari 1.000 tahun sampai saat ini. Bentuk boneka ini sederhana seperti huruf T karena juga berfungsi sebagai gantungan baju untuk bayi yang baru lahir."
- 25_Ishō Ningyō: Fuji Musume (Gadis Wisteria)
Seniman: Heian Mitsuyoshi
Tahun: 2020
"Boneka ini menggambarkan tarian tradisional Jepang melalui roh penari dari bunga Fuji atau Wisteria Jepang. Pengucapan kata 'Fuji' mirip dengan kata Jepang untuk keunikan (Fuji) dan keamanan (Buji), yang dianggap sebagai pertanda baik. Ishō berarti kostum, dan pakaian Ishō Ningyō dibuat dengan teknik yang sama seperti pembuatan pakaian manusia. Bahkan aksesori yang menghias rambut boneka ini dibuat dengan teliti agar mirip dengan yang asli."
- 37_Takasaki Daruma
Seniman: Minegishi Kimitsugu
Tahun: 2020
"Dibuat di: Kota Takasaki, Gunma
Bahan: Kertas
Daruma melambangkan Bodhidharma, atau dalam bahasa Jepang disebut Daruma Daishi, pendiri Zen. Boneka ini dipercaya membawa kebahagiaan dan mengabulkan harapan. Matanya tidak digambar karena secara tradisional, satu mata akan digambar saat membuat harapan, dan mata satunya digambar ketika harapan itu terkabul. Alis dan kumis Daruma digambar berdasarkan burung bangau dan kura-kura, keduanya melambangkan umur panjang."
- 59H_Jōruri Ningyō: Takeuchi Jujiro
Kepala: Ningyō Yoshi, Senjata: Ningyō Isa
Dibuat pada tahun 1990-an (kepala)
"Model boneka ini dibuat untuk Jōruri, teater boneka tradisional Jepang yang dikendalikan oleh tiga operator. Boneka ini dirancang dengan mekanisme yang memungkinkannya membuka dan menutup mata. Teater boneka dengan jenis boneka seperti ini pernah dipentaskan di seluruh Jepang. Contoh ini berasal dari Prefektur Tokushima dan menggambarkan seorang komandan militer muda bernama Jujiro yang muncul dalam cerita yang berjudul Ehon Taiko-ki."
- 66H_Licca-chan
Seniman: TOMY Company, Ltd.
(Kiri) 1967
(Kanan) 2003
"Ini adalah boneka rias yang terbuat dari plastik lembut. Boneka ini pertama kali dirilis di Jepang pada tahun 1967 oleh sebuah perusahaan pembuat mainan dan masih populer hingga saat ini, meskipun bentuk tubuh dan ekspresi wajahnya sedikit demi sedikit berubah untuk mengikuti tren fashion, seperti yang terlihat dari perbandingan model lama dengan model baru. Belakangan ini, anak perempuan Jepang bermain dengan boneka Licca-chan sebagaimana anak perempuan pada zaman Edo (1603-1868) bermain dengan boneka Ichimatsu Ningyō (No.60)."
Pameran "NINGYŌ: Seni dan Keindahan Boneka Jepang" dibuka untuk umum mulai tanggal 6 Juli hingga 24 Juli 2023, dengan melakukan registrasi melalui situs resmi GNI.
Selain Pameran Ningyo di Jakarta, juga diselenggarakan beberapa program publik, termasuk pemutaran film animasi, lokakarya kerajinan Kurumie, dan lokakarya Daruma Felt.(antara)
Editor : Aryanti Sasamu