Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rusia Belum Lihat Bukti Nuklir Iran, Tiongkok Desak Stop Serangan Militer

P

SATU SIKAP: Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi (kiri) dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dalam sebuah pertemuan. Keduanya mengkritik keras sekaligus mengecam serangan AS-Israel
SATU SIKAP: Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi (kiri) dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dalam sebuah pertemuan. Keduanya mengkritik keras sekaligus mengecam serangan AS-Israel


Advertisement

MOSKOW – Rusia dan Tiongkok melontarkan kritik keras terhadap serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Moskow menegaskan belum melihat bukti bahwa Teheran mengembangkan senjata nuklir, sementara Beijing mendesak penghentian segera operasi militer gabungan tersebut.

Dilansir dari Al Jazeera, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar pada Selasa (3/3) waktu setempat menyatakan serangan terjadi ketika negosiasi antara Washington dan Teheran menunjukkan kemajuan signifikan. Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Tiongkok, pembahasan tersebut bahkan telah menyentuh isu keamanan Israel.

 

Advertisement

Dia menegaskan, penggunaan kekuatan tidak akan menyelesaikan persoalan, namun justru berpotensi memperburuk konflik kawasan jika berlangsung dalam jangka panjang. Beijing juga meminta penghentian segera operasi militer guna mencegah eskalasi lebih lanjut.

Dalam komunikasi itu, Saar disebut menyetujui permintaan Tiongkok untuk mengambil langkah konkret demi meminimalkan dampak perang dan instabilitas regional.

Sehari sebelumnya, Wang juga melakukan pembicaraan dengan para menteri luar negeri Iran, Oman, dan Prancis. Ini sebagai bagian dari upaya Beijing meredam ketegangan kawasan yang terus meningkat.

Advertisement

 

Kritik serupa disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov. Dalam konferensi pers, Lavrov menilai perang terhadap Iran justru dapat memicu hasil yang berlawanan dari tujuan mencegah proliferasi nuklir. Yakni, adanya kekuatan di Iran yang justru mendorong kepemilikan bom nuklir.

 

 

Alasan ini sering dipakai oleh Amerika maupun Israel. Lavrov juga memperingatkan potensi negara-negara Arab ikut terdorong mengembangkan senjata nuklir jika krisis terus meningkat.

“Jika ini terjadi, maka persoalan proliferasi dapat lepas kendali,” ujarnya.

Rusia, lanjut Lavrov, belum melihat bukti bahwa Iran tengah mengembangkan senjata nuklir. Dia mengaku telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan menyatakan kesiapan Moskow membantu mencari solusi diplomatik.

Kementerian Luar Negeri Rusia sebelumnya menyebut serangan awal Amerika dan Israel pada Sabtu lalu (28/2) sebagai tindakan agresi bersenjata yang direncanakan dan tidak beralasan terhadap negara berdaulat anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). (lyn/len/jawa pos)

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Jawa Pos Koran

Artikel Terkait

Rusia-Korut Bangun Jalan Penghubung Moskow-Pyongyang

Rusia-Korut Bangun Jalan Penghubung Moskow-Pyongyang

Rusia dan Korea Utara (Korut) hampir menyelesaikan pembangunan jembatan darat pertama yang menghubungkan kedua negara. Infrastruktur tersebut akan menjadi jalur penghubung baru antara Moskow dan Pyongyang melalui....

Trump Diminta Desak Netanyahu Hentikan Kekerasan Tepi Barat

Trump Diminta Desak Netanyahu Hentikan Kekerasan Tepi Barat

Ratusan mantan pejabat militer, intelijen, dan diplomatik Israel mendesak Presiden AS Donald Trump menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar segera menghentikan kekerasan yang dilakukan pemukim Israel di....

Apple Ciptakan Kacamata Pintar agar Privasi Lebih Terlindungi

Apple Ciptakan Kacamata Pintar agar Privasi Lebih Terlindungi

Persaingan di pasar kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) mendorong Meta untuk menghadapi tantangan baru, yakni meningkatkan perlindungan privasi pengguna. Kehadiran Apple yang dikabarkan akan mengedepankan....

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer