Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Nobelis Ekonomi Desak Regulasi AI Cegah Ketimpangan Global Akibat Hilangnya Pekerjaan

P

OTONOM: Pengunjung melihat robot diagnostik medis bertenaga AI milik raksasa teknologi India, Wipro, di New Delhi, India, bulan lalu.
OTONOM: Pengunjung melihat robot diagnostik medis bertenaga AI milik raksasa teknologi India, Wipro, di New Delhi, India, bulan lalu.


Advertisement

NEW YORK – Gelombang perkembangan akal imitasi (AI) yang dipimpin perusahaan teknologi global kian mengubah arah ekonomi dunia. Dari Silicon Valley hingga berbagai pusat inovasi teknologi, perusahaan yang dipimpin tokoh seperti Elon Musk, Sam Altman, dan Mark Zuckerberg berlomba-lomba membangun infrastruktur AI.

Namun, di balik optimisme tersebut, sejumlah ekonom mulai mengingatkan potensi dampak sosial yang besar apabila tidak ada aturan tegas yang membatasinya. Terutama terhadap pasar tenaga kerja dan distribusi kekayaan global.

 

Advertisement

Salah satu kritik tajam datang dari nobelis alias peraih Nobel Ekonomi 2001 Joseph Stiglitz. Ekonom yang lama meneliti masalah ketimpangan sosial itu menilai, AI bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan kekuatan ekonomi yang berpotensi mengubah struktur kapitalisme modern jika tidak diimbangi kebijakan publik yang kuat.

"AI dapat mempercepat konsentrasi kekayaan pada pemilik teknologi sekaligus memperlebar kesenjangan ekonomi. Ketimpangan merupakan masalah yang sangat serius dalam masyarakat kita," ungkapnya sebagaimana ditulis Fortune kemarin (12/3).

 

 

Dia menjelaskan, dengan teknologi AI, ketergantungan perusahaan pada tenaga kerja manusia berkurang. Mereka bisa memangkas biaya tenaga kerja sehingga keuntungan bertambah bagi pemilik modal. Pada saat yang sama, risiko transisi ekonomi pun beralih kepada para pekerja serta masyarakat luas.

"Dibutuhkan peran negara untuk membantu pekerja menghadapi dampak otomatisasi," tegasnya.

Sayang, dia menambahkan, perusahaan-perusahaan teknologi terus berusaha menekan agar peran pemerintah diperkecil. Akibatnya, kemampuan negara untuk mengelola transisi AI secara efektif justru melemah. (din/dri/jawa pos)

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Jawa Pos Koran

Artikel Terkait

Rusia-Korut Bangun Jalan Penghubung Moskow-Pyongyang

Rusia-Korut Bangun Jalan Penghubung Moskow-Pyongyang

Rusia dan Korea Utara (Korut) hampir menyelesaikan pembangunan jembatan darat pertama yang menghubungkan kedua negara. Infrastruktur tersebut akan menjadi jalur penghubung baru antara Moskow dan Pyongyang melalui....

Trump Diminta Desak Netanyahu Hentikan Kekerasan Tepi Barat

Trump Diminta Desak Netanyahu Hentikan Kekerasan Tepi Barat

Ratusan mantan pejabat militer, intelijen, dan diplomatik Israel mendesak Presiden AS Donald Trump menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar segera menghentikan kekerasan yang dilakukan pemukim Israel di....

Apple Ciptakan Kacamata Pintar agar Privasi Lebih Terlindungi

Apple Ciptakan Kacamata Pintar agar Privasi Lebih Terlindungi

Persaingan di pasar kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) mendorong Meta untuk menghadapi tantangan baru, yakni meningkatkan perlindungan privasi pengguna. Kehadiran Apple yang dikabarkan akan mengedepankan....

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer