
ISLAMABAD - Delegasi Amerika Serikat (AS) dan Iran meninggalkan Islamabad, Pakistan, kemarin (12/4) tanpa membawa hasil konkret dari negosiasi 21 jam. Justru kedua pihak saling tuding satu sama lain sebagai penghambat tercapainya kesepakatan. Wakil Presiden AS J.D. Vance menyebut, Iran tidak menerima persyaratan yang mereka ajukan dalam perundingan yang berlangsung sejak Sabtu (11/4) lalu itu, terutama soal senjata nuklir. "Kami perlu melihat komitmen afirmatif Iran bahwa mereka tidak akan membuat senjata nuklir dan mereka tidak akan mencari medium yang memungkinkan mereka membuat senjata nuklir. Tidak hanya dua tahun dari sekarang, tapi juga untuk jangka panjang," kata Vance dalam konferensi pers sebelum meninggalkan Islamabad, seperti dikutip dari Dawn.com.
Namun, Iran balik menuding kalau tuntutan berlebihan AS yang menjadi penghambat tercapainya kesepakatan. "Mereka ingin mencapai tujuan yang gagal mereka capai di medan peperangan," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei, seperti dikutip dari Kantor Berita Fars. Kegagalan tercapainya kesepakatan itu berarti mengakhiri gencatan senjata dua pekan yang berlaku sejak 8 April lalu sebagai sandaran untuk tidak saling serang kembali. Namun, Baqaei menjamin, meski negosiasi buntu, diplomasi tetap berjalan. "Iran dan AS mencapai kesepahaman dalam sejumlah isu, tapi ada perbedaan pandangan dalam dua-tiga persoalan penting," kata Baqaei. Baqaei tidak merinci apa saja dua-tiga persoalan penting itu. Namun, sangat mungkin isu senjata nuklir dan penguasaan Selat Hormuz ada di dalamnya.
Baca Juga: Iran Rilis Peta Jalur Aman Selat Hormuz, Israel Malah Terus Serang Lebanon
Iran selalu menekankan, nuklirnya untuk kepentingan damai. Sementara itu, Selat Hormuz baru mereka blokade setelah AS dan Israel menyerang pada 28 Februari lalu. Sebagai tuan rumah perundingan, sembari meminta AS dan Iran tetap mematuhi gencatan, Deputi Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar juga menyatakan, kesiapan negaranya kembali memediasi perundingan selanjutnya. "Kami berharap kedua pihak tetap menjaga semangat positif untuk mencapai perdamaian dan kesejahteraan bagi segenap kawasan dan wilayah yang lebih luas lagi," kata Dar seperti dikutip dari Dawn.com.
TERUS MENGEBOM: Israel menyerang sebuah desa di Lebanon Selatan kemarin (12/4). Meski AS dan Iran tengah gencatan senjata, Israel tetap saja berulah brutal dengan tak berhenti menyerang Lebanon. (FOTO: ABBAS FAKHRA/AFP)



