Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Blokade AS Masih Berlanjut, Iran Tolak Berunding

P
KOMPROMI: Sejumlah personel Angkatan Laut Garda Revolusi menaiki kapal yang nekat melintasi Selat Hormuz, Rabu (22/4). Di hari yang sama, ada dua kapal lain yang juga disita.
KOMPROMI: Sejumlah personel Angkatan Laut Garda Revolusi menaiki kapal yang nekat melintasi Selat Hormuz, Rabu (22/4). Di hari yang sama, ada dua kapal lain yang juga disita.

Advertisement

 TEHERAN – Amerika Serikat (AS) mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran, tetapi tidak menyebutkan sampai kapan. Iran malah lebih tegas lagi dengan menolak melanjutkan perundingan di Islamabad, Pakistan. Teheran beralasan bahwa Washington DC tidak menunjukkan itikad baik untuk berdamai. Blokade pelabuhan Iran yang dilakukan AS menjadi salah satu contohnya.

Penasihat strategis Parlemen Iran, Mahdi Mohammadi, menilai perpanjangan gencatan senjata hanya merupakan taktik AS. "Ini taktik untuk mengulur waktu," kata Mohammadi, seperti dikutip dari Xinhua kemarin (23/4).

Dia menambahkan bahwa tekanan berkelanjutan di laut dapat memicu respons yang lebih tegas dari Iran. "Iran tidak akan membiarkan tekanan terus berlangsung tanpa respons," imbuhnya.

Advertisement

Pada 11 April lalu, perwakilan kedua negara berunding di Islamabad. Namun, perundingan yang berlangsung 21 jam itu gagal membuahkan kesepakatan konkret.

Dari Washington DC, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa tidak ada urgensi untuk segera mengakhiri konflik. "Saya tidak terburu-buru. Saya ingin kesepakatan yang baik," kata Trump, seperti dikutip BBC.

Advertisement

Tetap Buka Ruang Dialog

Iran pun tetap menutup Selat Hormuz. Garda Revolusi juga telah menyita dua kapal kargo yang nekat melintas.

Nour News, media yang terafiliasi dengan Garda Revolusi, menyebut kapal pertama yang disergap bernama Epaminondas dan berasal dari Yunani. Kapal kedua, Euphoria, disergap tak lama kemudian. Mengutip BBC, Garda Revolusi juga menyita kapal ketiga yang berbendera Panama, Francesca.

Meski demikian, Iran tetap membuka ruang dialog. "Diplomasi hanya bisa berjalan jika kepentingan nasional kami dihormati," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei. (lyn/ttg)

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Koran Jawa Pos

Artikel Terkait

Rusia-Korut Bangun Jalan Penghubung Moskow-Pyongyang

Rusia-Korut Bangun Jalan Penghubung Moskow-Pyongyang

Rusia dan Korea Utara (Korut) hampir menyelesaikan pembangunan jembatan darat pertama yang menghubungkan kedua negara. Infrastruktur tersebut akan menjadi jalur penghubung baru antara Moskow dan Pyongyang melalui....

Trump Diminta Desak Netanyahu Hentikan Kekerasan Tepi Barat

Trump Diminta Desak Netanyahu Hentikan Kekerasan Tepi Barat

Ratusan mantan pejabat militer, intelijen, dan diplomatik Israel mendesak Presiden AS Donald Trump menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar segera menghentikan kekerasan yang dilakukan pemukim Israel di....

Apple Ciptakan Kacamata Pintar agar Privasi Lebih Terlindungi

Apple Ciptakan Kacamata Pintar agar Privasi Lebih Terlindungi

Persaingan di pasar kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) mendorong Meta untuk menghadapi tantangan baru, yakni meningkatkan perlindungan privasi pengguna. Kehadiran Apple yang dikabarkan akan mengedepankan....

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer