Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Amerika Perintahkan Angkatan Laut Kawal Tanker di Selat Hormuz Setelah Proposal Damai Ditolak Iran

P
TERTAHAN: Kapal-kapal melewati Selat Hormuz di lepas pantai Bandar Abbas, Iran bagian selatan, kemarin (12/5). (Foto: AFP)
TERTAHAN: Kapal-kapal melewati Selat Hormuz di lepas pantai Bandar Abbas, Iran bagian selatan, kemarin (12/5). (Foto: AFP)

Advertisement

 

WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memerintahkan Angkatan Laut AS bersiap mengawal kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz setelah proposal perdamaian Washington ditolak mentah-mentah oleh Iran. Langkah itu diambil di tengah memanasnya kembali ketegangan terkait blokade jalur pelayaran minyak paling vital di dunia tersebut.

Trump mengatakan gencatan senjata antara AS dan Iran kini berada dalam kondisi "kritis" setelah dirinya membaca dokumen proposal balasan dari Teheran. "Saya akan mengatakan bahwa gencatan senjata itu berada dalam kondisi kritis," ujar Trump.

Advertisement

Teheran Tolak Buka Blokade

Pernyataan keras itu muncul setelah Iran menolak melanjutkan pembicaraan penghentian blokade Selat Hormuz kecuali AS memenuhi sejumlah syarat yang diajukan Teheran. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur utama distribusi minyak dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.

Sebelumnya, pemerintah AS telah mengirim proposal perdamaian kepada Iran pekan lalu. Proposal tersebut berisi sejumlah syarat untuk membatasi pengembangan program nuklir Iran dan meredakan konflik di kawasan. Namun pada akhir pekan lalu, Iran mengirimkan proposal balasan yang langsung ditolak Trump.

Advertisement

Ditentang Arab Saudi

Namun, rencana pengawalan militer kapal tanker minyak oleh Angkatan Laut AS di Selat Hormuz tersebut mendapat penolakan dari Arab Saudi. Riyadh dikabarkan tidak ingin wilayah udara maupun pangkalan militernya digunakan untuk operasi yang dianggap dapat memperbesar eskalasi konflik di Timur Tengah.

Ketegangan semakin meningkat setelah harga minyak dunia kembali melonjak hingga menembus 105 dolar AS per barel. Lonjakan terjadi setelah Iran menegaskan tidak akan membuka negosiasi baru terkait Selat Hormuz sebelum tuntutannya dipenuhi.

Syarat Masuk Akal

Mantan Komandan Korps Garda Revolusi Iran, Mohammad Ali Jafari, mengatakan tidak akan ada perundingan selama sanksi terhadap Iran belum dicabut dan kerugian perang belum diganti.

"Selama perang di semua lini belum berakhir, sanksi belum dicabut, dana yang diblokir belum dilepaskan, kerusakan perang belum diganti rugi, dan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz belum diakui, tidak akan ada negosiasi lain," tegas Jafari.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, menyebut proposal yang diajukan negaranya sebagai langkah yang "masuk akal, bertanggung jawab, dan murah hati". Ia menilai peluang tercapainya kesepakatan sebenarnya masih terbuka. (raf/gas)

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Koran Jawa Pos

Artikel Terkait

Rusia-Korut Bangun Jalan Penghubung Moskow-Pyongyang

Rusia-Korut Bangun Jalan Penghubung Moskow-Pyongyang

Rusia dan Korea Utara (Korut) hampir menyelesaikan pembangunan jembatan darat pertama yang menghubungkan kedua negara. Infrastruktur tersebut akan menjadi jalur penghubung baru antara Moskow dan Pyongyang melalui....

Trump Diminta Desak Netanyahu Hentikan Kekerasan Tepi Barat

Trump Diminta Desak Netanyahu Hentikan Kekerasan Tepi Barat

Ratusan mantan pejabat militer, intelijen, dan diplomatik Israel mendesak Presiden AS Donald Trump menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar segera menghentikan kekerasan yang dilakukan pemukim Israel di....

Apple Ciptakan Kacamata Pintar agar Privasi Lebih Terlindungi

Apple Ciptakan Kacamata Pintar agar Privasi Lebih Terlindungi

Persaingan di pasar kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) mendorong Meta untuk menghadapi tantangan baru, yakni meningkatkan perlindungan privasi pengguna. Kehadiran Apple yang dikabarkan akan mengedepankan....

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer