Memori Liputan di Mindanao Selatan Bersama Mendiang Om Ferry Rende: Di Bawah Moncong Senjata Antara Gensan dan Davao

JAGOSATU.COM - Senin malam 7 September 2026 saya membuka WhatsApp Grup (WAG) dan membaca deretan ungakapan belasungkawa. Ditujukan kepada senior Ferry Boy Martin Rende. Om Ferry wafat. Di usia 70 tahun lebih sedikit 6 bulan. Lebih singkat sering kami tulis Ferry Rende. Saya lebih akrab dengan panggilan senior atau jika bersua langsung, karib kusapa Om Ferry. Tentu sedih. Punya banyak kenangan dengan almarhum. Yang enak, tidak enak juga mencekam. Lalu saya membuka laptop, menulisnya, mengalir begitu saja. Tapi, saya urungkan memuat tulisan ini karena ketiadaan bukti foto. Kemarin siang selepas sport ringan, saya membongkar sisa-sisa foto fisik di album foto keluarga yang makin lusuh, bahkan sudah masuk tas. Sudah diletakkan di atas lemari, dianggap sebagai barang bekas. Alhamdulillah, saya menemukan beberapa lembar. Lalu saya foto lagi pakai ponsel agar mendukung tulisan ini. Biar tidak dikira mengarang bebas. Maklum, zaman digital sekarang, tanpa bukti valid dianggap hoax.
Tidak hendak mengungkit apapun, terutama kepada keluarga almarhum yang ditinggalkan. Jasad Om Ferry juga sudah dikebumikan Kamis 10 September pekan lalu. Semata-mata bentuk penghormatan saya kepada salah satu senior panutan kami di dunia jurnalistik. Saya pilih menulis kisah kami liputan bersama sekira 20 tahun silam di Mindanao Selatan, Filipina.
*****

Dari tiga kali tugas liputan bersama ke luar Indonesia, satu yang paling berkesan sebagai sejarah pertemanan, rasa persaudaraan dengan senior Ferry Boy Marthin Rende. Adalah liputan keberadaan warga Nusa Utara di Provinsi Sarangani, Mindanao Selatan, Filipina.
Om Ferry, saya dan Raymond Pasla mengenang tugas itu sebagai kisah yang unik dan lumayan mencekam. Mulai dari pesawat jenis ATR baling-baling yang kami tumpangi dari Manado ke Davao, hingga mencari jejak ribuan warga Sangihe, Talaud dan Sitaro di kawasan yang dikenal sebagai kampungnya petinju legendaris Filipina, Manny Paqiauo.
Dua tugas lainnya, ke Taiwan dan Manila tidak banyak interaksi karena kami dalam rombongan berbeda. Juga tak ada yang menegangkan karena sekadar mengawal tim kesenian yang tampil mempromosikan budaya Sulut ke dua negara itu. Untuk tujuan pariwisata.
Tapi, yang ke Davao itu benar-benar kami bertiga menjadi satu. Meski kawasan ini paling dekat dengan Sulut, juga sebagai kawasan perbatasan Indonesia-Filipina, tapi di sinilah kami menemukan banyak pelajaran sebagai jurnalis. Jika tidak karena jatah Konsulat Jenderal (Konjen) RI di Davao, kami bertiga ingin sekamar saja. Tapi, Konjen rupanya sudah menyiapkan masing-masing satu kamar hotel menginap.
Baru mau naik pesawat baling-baling –orang orang sering bilang HS--, kami bertiga sudah saling bercanda. ‘’Rupa mo nae boto-boto torang ini Ril?’’ Celetukan Om Ferry itu mengundang gelak tawa rombongan sekira 40-an penumpang lainnya di ruang tunggu Bandara Samratulangi.
Saya mengira kami akan menumpang jet yang dioperasikan maskapai Merpati saat itu, yang menerbangi Manado-Davao-Manado sepekan dua kali. ‘’Sabar jo deng banyak berdoa. Anggap jo torang lagi menunggu di dekat mesin gilingan padi,’’ cetusnya.
