Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Iran-AS Lanjutkan Negosiasi soal Nuklir

P
Menuju kesepakatan: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berpidato dalam Konferensi PBB di Jenewa (17/2). Salah satu yang disampaikan adalah perundingan Iran dan AS soal program nuklir.
Menuju kesepakatan: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berpidato dalam Konferensi PBB di Jenewa (17/2). Salah satu yang disampaikan adalah perundingan Iran dan AS soal program nuklir.

JENEWA – Pembicaraan tidak langsung soal nuklir antara Iran dan Amerika Serikat (AS) menunjukkan kemajuan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut perundingan terbaru di Jenewa pada Selasa (17/2) menghasilkan kemajuan. Meski demikian, Washington menegaskan opsi militer tetap terbuka jika diplomasi gagal.


Advertisement

Perundingan itu dimediasi Oman. Araghchi mengatakan kedua pihak telah mencapai kesepakatan luas mengenai seperangkat prinsip panduan sebagai dasar penyusunan teks perjanjian potensial. "Kami kini memiliki jalur yang jelas ke depan, dan saya pikir ini positif," ujarnya seperti dilansir Al Jazeera.

 

Menurut dia, putaran kali ini lebih maju dibandingkan pertemuan sebelumnya di Oman awal bulan ini. Meski demikian, Araghchi mengaku masih diperlukan waktu untuk mempersempit perbedaan. Setelah masing-masing pihak menyusun draf, teks akan dipertukarkan dan jadwal putaran ketiga ditetapkan.

Advertisement

Di Washington DC, Wakil Presiden AS JD Vance memberi sinyal bahwa negaranya masih mengedepankan jalur diplomasi, namun dengan nada lebih berhati-hati. "Dalam beberapa hal berjalan baik. Mereka sepakat untuk bertemu lagi," ujarnya. Namun, dia menegaskan Presiden Amerika Donald Trump memiliki "garis merah" yang belum sepenuhnya diakui pihak Iran. Menurutnya, diplomasi akan selesai setelah mendapatkan pernyataan dari Trump.

 

Selama bertahun-tahun, Iran menuntut pencabutan sanksi luas yang dijatuhkan Amerika Serikat. Termasuk larangan pembelian minyak Iran oleh negara lain. Teheran ingin fokus pembicaraan pada program pengayaan uranium dan menegaskan setiap kesepakatan harus memberikan manfaat ekonomi nyata tanpa mengorbankan kedaulatan dan keamanan nasional.

Advertisement

 

 

Sebaliknya, Washington menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium di dalam negeri serta memperluas cakupan perundingan ke isu non-nuklir, seperti persenjataan rudal. Iran menolak tuntutan tersebut.

Direktur Proyek Iran Crisis Group, Ali Vaez, menilai ruang kompromi di isu nuklir masih terbuka. Menurut dia, program nuklir Iran telah melemah di lapangan sehingga sebagian biaya kompromi sudah terjadi. Namun, untuk isu non-nuklir seperti aktivitas regional dan program rudal, dia memperkirakan Iran hanya bersedia memberi konsesi terbatas. (lyn/len/jawa pos)

 

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Jawa Pos Koran

Artikel Terkait

Rusia-Korut Bangun Jalan Penghubung Moskow-Pyongyang

Rusia-Korut Bangun Jalan Penghubung Moskow-Pyongyang

Rusia dan Korea Utara (Korut) hampir menyelesaikan pembangunan jembatan darat pertama yang menghubungkan kedua negara. Infrastruktur tersebut akan menjadi jalur penghubung baru antara Moskow dan Pyongyang melalui....

Trump Diminta Desak Netanyahu Hentikan Kekerasan Tepi Barat

Trump Diminta Desak Netanyahu Hentikan Kekerasan Tepi Barat

Ratusan mantan pejabat militer, intelijen, dan diplomatik Israel mendesak Presiden AS Donald Trump menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar segera menghentikan kekerasan yang dilakukan pemukim Israel di....

Apple Ciptakan Kacamata Pintar agar Privasi Lebih Terlindungi

Apple Ciptakan Kacamata Pintar agar Privasi Lebih Terlindungi

Persaingan di pasar kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) mendorong Meta untuk menghadapi tantangan baru, yakni meningkatkan perlindungan privasi pengguna. Kehadiran Apple yang dikabarkan akan mengedepankan....

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer