
JAKARTA — Kinerja ekspor-impor Indonesia tetap solid. Sepanjang 2025, neraca perdagangan mencatat surplus USD 41,05 miliar. Angka itu memperpanjang rekor surplus selama hampir enam tahun terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus Januari-Desember 2025 itu meningkat USD 9,72 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, pencapaian tersebut memperpanjang tren positif neraca perdagangan Indonesia.
Hingga Desember 2025, neraca perdagangan Indonesia surplus selama 68 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” ujar Ateng di Jakarta, kemarin (2/2). Surplus sepanjang 2025 terutama ditopang sektor nonmigas yang mencatat kelebihan USD 60,75 miliar. Sebaliknya, migas masih defisit USD 19,7 miliar.
Dari sisi ekspor, nilai ekspor kumulatif 2025 tumbuh 6,15 persen dibanding tahun sebelumnya. Penggerak utama datang dari industri pengolahan yang membukukan ekspor USD 227,10 miliar atau melonjak 14,47 persen secara tahunan. Tujuan ekspor masih didominasi negara besar: Tiongkok, Amerika Serikat, dan India yang menyumbang sekitar 42,28 persen total ekspor nonmigas.
Di sisi lain, nilai impor Indonesia sepanjang 2025 mencapai USD 241,86 miliar, naik 2,83 persen dibanding tahun sebelumnya. Dilihat dari negara asal, Tiongkok tetap menjadi pemasok utama impor nonmigas dengan nilai USD 86,99 miliar atau 41,6 persen dari total impor nonmigas. Kemudian diikuti Jepang USD 14,42 miliar (6,9 persen) dan Amerika Serikat USD 9,84 miliar (4,7 persen). (mim/dio)



