Sabda Bina Pemuda, Renungan Harian, Rabu, 8 Juli 2026, Amsal 22:22-23 Tuhan Sang Pembela Agung

Pembacaan Alkitab: Amsal 22:22-23
Tema: TUHAN SANG PEMBELA AGUNG
"Sebab TUHAN membela perkara mereka..." (Amsal 22:23a)
Shalom, Sobat Muda GPIB! Kita hidup di era digital. Hampir setiap hari kita membuka media sosial. Bangun tidur, mungkin yang pertama kita lihat adalah notifikasi WhatsApp, Instagram, TikTok, X, atau platform lainnya.
Kita melihat berita, video, komentar, meme, bahkan ikut berdiskusi tentang berbagai isu yang sedang viral. Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Melalui media sosial kita belajar, bekerja, berjejaring, bahkan melayani.
Namun di balik semua manfaatnya, media sosial juga dapat menjadi tempat munculnya berbagai bentuk ketidakadilan.
Pernahkah kalian melihat seseorang menjadi sasaran hujatan di media sosial? Hanya karena satu potongan video, satu unggahan, atau satu kesalahan, ribuan komentar langsung berdatangan.
Tidak sedikit komentar yang berisi hinaan, fitnah, ejekan, bahkan ancaman. Banyak orang ikut berkomentar tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya. Fenomena ini sering disebut trial by social media atau "pengadilan oleh media sosial". Seseorang dihakimi sebelum kebenaran benar-benar diketahui.
Hal seperti ini mengingatkan kita pada firman Tuhan dalam Amsal 22:22-23: "Janganlah merampasi orang lemah karena ia lemah, dan janganlah menginjak-injak orang miskin di pintu gerbang. Sebab TUHAN membela perkara mereka, dan mengambil nyawa orang yang merampasi mereka."
Sekilas ayat ini tampaknya berbicara tentang kehidupan masyarakat Israel kuno. Namun jika kita memahami latar belakangnya, firman ini ternyata sangat relevan bagi kehidupan kita sekarang.
Pada zaman Perjanjian Lama, pintu gerbang kota bukan hanya tempat orang keluar masuk kota. Pintu gerbang merupakan pusat kehidupan masyarakat. Di sanalah para tua-tua berkumpul untuk mengadili perkara, membuat keputusan penting, menyelesaikan perselisihan, melakukan transaksi perdagangan, dan mendiskusikan berbagai persoalan masyarakat. Dengan kata lain, pintu gerbang adalah tempat opini publik dibentuk.
Kalau dibandingkan dengan kehidupan kita sekarang, "pintu gerbang kota" itu sangat mirip dengan media sosial. Di media sosial, orang berdiskusi, memberikan komentar, menyampaikan pendapat, mempromosikan barang, mencari informasi, bahkan memengaruhi cara berpikir banyak orang. Bedanya, jika dulu yang hadir di pintu gerbang hanya warga kota, sekarang siapa saja dapat berkomentar dari mana saja hanya melalui telepon genggam.
