Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Rabui, 15 Juli 2026, 1 Petrus 2:24-25 Hidup Untuk Kebenaran

Pembacaan Alkitab: 1 Petrus 2:24-25
TEMA : HIDUP UNTUK KEBENARAN
“Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.”
(1 Petrus 2:24-25)
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Setiap manusia tentu menginginkan kehidupan yang baik dan benar. Kita ingin hidup dalam lingkungan yang penuh kejujuran, keadilan, kasih, dan penghormatan terhadap sesama. Sebab kebaikan dan kebenaran adalah nilai yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Orang yang sungguh-sungguh baik akan berusaha melakukan apa yang benar. Sebaliknya, kebenaran yang tidak diwujudkan dalam tindakan nyata hanya akan menjadi kata-kata tanpa makna. Karena itu, kebaikan dan kebenaran selalu berjalan bersama. Keduanya harus terlihat dalam sikap dan perilaku hidup kita.
Bagi orang percaya, sumber kebaikan dan kebenaran yang sempurna adalah Tuhan Yesus Kristus. Yesus bukan hanya mengajarkan kebenaran, tetapi Ia sendiri adalah Kebenaran itu. Seluruh kehidupan-Nya menjadi teladan bagaimana manusia seharusnya hidup di hadapan Allah dan sesama.
Dalam Injil Yohanes 10:11, Yesus berkata: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” Pernyataan ini menunjukkan kasih dan tanggung jawab Yesus terhadap umat-Nya.
Saudara yang dikasihi Tuhan, Surat Petrus menggambarkan Yesus sebagai Gembala dan Pemelihara jiwa kita. Gambaran tentang gembala sangat dekat dengan kehidupan masyarakat pada zaman itu. Seorang gembala memiliki tanggung jawab untuk menjaga, melindungi, dan mencari domba-dombanya.
Domba adalah hewan yang mudah tersesat dan tidak mampu melindungi dirinya dari bahaya. Karena itu, seorang gembala harus selalu memperhatikan keberadaan domba-dombanya.
Demikian juga dengan kehidupan manusia di hadapan Tuhan. Kita sering kali seperti domba yang mudah tersesat oleh godaan dunia, keinginan diri sendiri, dan dosa. Kita dapat kehilangan arah ketika menjauh dari kehendak Tuhan.
