Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Senin, 27 Juli 2026, 1 Yohanes 2:7-14 Lama Tetapi Baru

Pembacaan Alkitab: 1 Yohanes 2:7–14
Tema: Lama Tetapi Baru
"Barangsiapa berkata bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya." (1 Yohanes 2:9–11)
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Salah satu hal yang sering kita saksikan dalam kehidupan saat ini adalah mudahnya manusia menunjukkan sikap membela sesuatu yang dianggap benar, tetapi pada saat yang sama kehilangan kasih kepada sesama. Hal ini semakin terlihat melalui perkembangan media sosial.
Ketika terjadi konflik, perbedaan pandangan, atau ketegangan antar kelompok, banyak orang dengan cepat memberikan komentar, pendapat, bahkan pembelaan. Namun yang menyedihkan, tidak jarang pembelaan tersebut disertai dengan kata-kata kasar, penghinaan, dan kebencian.
Ada sebuah ironi yang perlu kita renungkan: seseorang dapat berbicara tentang iman, tetapi perkataannya melukai orang lain. Seseorang dapat mengaku membela kebenaran, tetapi cara yang digunakan justru bertentangan dengan kasih Kristus.
Keadaan ini dapat digambarkan seperti seseorang yang memiliki senter yang terang, tetapi baterainya bocor. Senter itu mungkin terlihat bagus, tetapi tidak mampu memberikan cahaya karena sumber dayanya rusak. Demikian juga kehidupan iman. Kita mungkin memiliki banyak pengetahuan tentang Tuhan, aktif dalam kegiatan gereja, bahkan mampu berbicara tentang kebenaran, tetapi jika hati kita dipenuhi kebencian, maka terang Kristus tidak lagi terpancar melalui hidup kita.
Firman Tuhan dalam 1 Yohanes 2:7–14 berbicara dengan sangat jelas tentang hubungan antara terang, kasih, dan kehidupan orang percaya. Rasul Yohanes mengingatkan jemaat bahwa iman kepada Kristus tidak dapat dipisahkan dari cara seseorang memperlakukan sesamanya.
Pada bagian sebelumnya, Yohanes berbicara tentang pentingnya ketaatan kepada Allah. Dalam bagian ini, ia menunjukkan salah satu bentuk nyata dari ketaatan tersebut, yaitu hidup dalam kasih.
Yohanes memulai dengan berkata, "Saudara-saudaraku yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya."
Perintah yang dimaksud adalah perintah untuk saling mengasihi. Mengapa Yohanes menyebutnya sebagai perintah lama? Karena kasih bukan sesuatu yang baru muncul dalam kehidupan orang percaya. Sejak awal Allah telah menyatakan kehendak-Nya agar manusia hidup dalam kasih.
