Sabda BIna Umat, Renungan Malam, Minggu, 9 Agustus 2026, Mazmur 94:22-23 Tuhan Tidak Berkompromi Dengan Kejahatan

Pembacaan Alkitab : Mazmur 94:22-23
TEMA ; TUHAN TIDAK BERKOMPROMI DENGAN KEJAHATAN
"Tetapi, TUHAN adalah kota bentengku, Allahku gunung batu perlindunganku." (Mazmur 94:22)
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Dalam perjalanan kehidupan, setiap manusia tentu membutuhkan tempat perlindungan. Ketika menghadapi bahaya, ancaman, atau kesulitan, manusia akan mencari sesuatu yang dapat memberikan rasa aman.
Ada yang mengandalkan kekuatan diri, harta benda, jabatan, relasi, atau berbagai kemampuan yang dimiliki. Namun semua hal tersebut memiliki keterbatasan. Ada keadaan tertentu di mana manusia tidak mampu lagi mengandalkan kekuatannya sendiri.
Mazmur 94:22 memberikan pengakuan iman yang sangat kuat dari pemazmur: "Tetapi, TUHAN adalah kota bentengku, Allahku gunung batu perlindunganku." Di tengah situasi yang penuh tekanan akibat kejahatan orang-orang fasik, pemazmur tidak kehilangan harapan. Ia menemukan bahwa perlindungan yang sejati hanya ada di dalam Tuhan.
Ungkapan "kota benteng" dan "gunung batu perlindungan" menggambarkan sesuatu yang besar, kokoh, dan tidak mudah dihancurkan. Pada zaman dahulu, kota benteng menjadi tempat pertahanan ketika musuh datang menyerang.
Gunung batu menjadi gambaran tempat yang kuat dan sulit ditembus. Dengan menggunakan gambaran ini, pemazmur ingin menyatakan bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan yang paling aman bagi umat-Nya.
Namun, menjadikan Tuhan sebagai benteng bukan berarti orang percaya tidak akan pernah mengalami ancaman atau masalah. Hidup bersama Tuhan bukan jaminan bahwa kita bebas dari kesulitan. Justru terkadang orang yang berusaha hidup benar akan menghadapi tantangan karena dunia tidak selalu menerima nilai-nilai kebenaran Allah.
Ada kalanya orang yang jujur mengalami kerugian karena menolak melakukan kecurangan. Ada orang yang mempertahankan kebenaran tetapi justru disalahpahami. Ada orang yang hidup dalam kasih, tetapi dibalas dengan kebencian. Semua itu menunjukkan bahwa kehidupan iman membutuhkan keteguhan hati.
