Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Rabu, 12 Agustus 2026, Yohanes 9:13-16 Kuasa Dan Kasih Yesus Melampaui Peraturan Manusia

Pembacaan Alkitab : Yohanes 9:13-16
TEMA : KUASA DAN KASIH YESUS MELAMPAUI PERATURAN MANUSIA
"Lalu kata sebagian orang-orang Farisi itu: 'Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.' Namun, yang lain berkata: 'Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat tanda mukjizat yang demikian?' Lalu timbullah pertentangan di antara mereka." (Yohanes 9:16)
Shalom, Bapak, Ibu, Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, aturan sangat penting. Aturan menjaga ketertiban, menciptakan keadilan, dan melindungi kehidupan bersama. Di rumah ada aturan keluarga, di sekolah ada tata tertib, di tempat kerja ada peraturan, bahkan dalam kehidupan bergereja pun ada tata gereja yang harus dihormati. Semua aturan itu pada dasarnya baik, karena membantu manusia hidup tertib dan bertanggung jawab.
Namun, persoalan muncul ketika aturan menjadi lebih penting daripada manusia. Aturan yang seharusnya menjadi sarana menghadirkan kebaikan justru berubah menjadi alasan untuk mengabaikan kasih, belas kasihan, dan pertolongan kepada sesama. Inilah yang terjadi dalam bacaan kita hari ini.
Setelah Tuhan Yesus menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir, orang-orang membawa dia kepada orang-orang Farisi. Mereka ingin mengetahui bagaimana para pemimpin agama menanggapi peristiwa yang luar biasa itu. Mungkin mereka berharap para Farisi memuliakan Allah karena mujizat yang terjadi. Namun yang muncul justru perdebatan.
Orang-orang Farisi tidak terlebih dahulu bersukacita karena seorang yang selama ini hidup dalam kegelapan kini dapat melihat. Mereka juga tidak memuji Allah atas kuasa yang dinyatakan. Sebaliknya, perhatian mereka tertuju pada satu hal: penyembuhan itu terjadi pada hari Sabat.
Bagi sebagian orang Farisi, persoalannya bukanlah orang buta yang telah sembuh, melainkan Yesus dianggap melanggar aturan Sabat. Mereka berkata, "Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat."
Sebaliknya, sebagian Farisi yang lain mulai berpikir lebih terbuka. Mereka bertanya, "Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat tanda mujizat yang demikian?" Mereka menyadari bahwa tidak mungkin kuasa sebesar itu berasal dari seseorang yang jauh dari Allah. Akibatnya, terjadilah pertentangan di antara mereka.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Peristiwa ini mengajarkan bahwa manusia sering kali lebih mudah melihat pelanggaran aturan daripada melihat karya Allah. Mata mereka begitu tajam terhadap kesalahan, tetapi tertutup terhadap kasih Tuhan yang sedang bekerja.
