Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Selasa, 25 Agustus 2026, Amsal 11:4-6 Kekayaan Sesungguhnya Hidup Dalam Kebenaran

Pembacaan Alkitab: Amsal 11:4-6
TEMA: KEKAYAAN SESUNGGUHNYA: HIDUP DALAM KEBENARAN
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Dalam kehidupan modern, banyak orang tanpa sadar mengukur nilai dirinya berdasarkan apa yang dimiliki. Kekayaan, rumah, kendaraan, jabatan, pendidikan, maupun status sosial sering dianggap sebagai tanda keberhasilan.
Tidak jarang kita merasa lebih aman ketika tabungan bertambah, deposito tersedia, dan aset semakin banyak. Seolah-olah semakin banyak yang kita miliki, semakin terjamin pula masa depan kita.
Pemikiran seperti ini mengingatkan kita pada gagasan Erich Fromm dalam bukunya To Have or to Be, yang membedakan kehidupan berdasarkan orientasi "memiliki" dan "menjadi". Manusia dapat terjebak dalam keinginan untuk terus memiliki lebih banyak, sampai akhirnya lupa bertanya: "Saya sedang menjadi manusia seperti apa di hadapan Tuhan?"
Kita perlu menyadari bahwa uang memang penting dalam kehidupan, tetapi uang bukanlah tujuan hidup. Uang hanyalah alat. Kita dapat mengumpulkan uang dan harta sebanyak-banyaknya, tetapi kita tidak dapat membeli kembali waktu yang sudah berlalu.
Uang dapat dicari kembali, tetapi kesempatan untuk melakukan kebaikan pada hari kemarin tidak dapat diulang. Karena itu, bagaimana kita menggunakan waktu dan kehidupan jauh lebih penting daripada sekadar berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan.
Amsal 11:4 berkata, "Pada hari kemurkaan harta tidak berguna, tetapi kebenaran melepaskan orang dari maut."
Ayat ini memberikan sebuah peringatan yang sangat kuat. Ada saatnya harta yang kita banggakan tidak lagi memiliki kekuatan. Ketika manusia berhadapan dengan kematian dan penghakiman Tuhan, uang, jabatan, rumah, kendaraan, dan segala kepemilikan tidak dapat menjadi penolong utama.
Bayangkan seseorang yang sepanjang hidupnya berhasil mengumpulkan kekayaan. Ia memiliki banyak aset, dikenal sebagai orang sukses, dan dihormati oleh masyarakat. Namun ketika tiba waktunya menghadapi kematian, tidak satu pun dari semua itu dapat dibawanya untuk bernegosiasi dengan Tuhan.
