Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Jumat, 28 Agustus 2026, Amsal 17:16-17 Sahabat Sejati Dan Saudara Yang Baik

Pembacaan Alkitab: Amsal 17:16-17
Tema: Sahabat Sejati Dan Saudara Yang Baik
Selamat pagi, sahabat pembaca Sabda GPIB yang dikasihi Tuhan. Dalam kehidupan, kita dapat memiliki banyak kenalan, tetapi belum tentu semuanya menjadi sahabat.
Kita bisa memiliki banyak orang yang hadir ketika keadaan menyenangkan, tetapi ketika masalah datang, barulah kita mengetahui siapa yang sungguh-sungguh peduli kepada kita.
Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa “teman sejati terlihat ketika kita berada dalam kesulitan.” Dalam keadaan senang, mungkin banyak orang bersedia berjalan bersama kita. Tetapi ketika kita mengalami kegagalan, kesedihan, kehilangan, atau persoalan hidup, tidak semua orang bersedia tetap tinggal.
Amsal 17:17 berkata, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan seorang saudara dilahirkan untuk waktu kesesakan.” Ayat ini menggambarkan kepada kita seperti apa kualitas hubungan yang sejati. Sahabat sejati bukan hanya hadir ketika semuanya baik-baik saja. Ia juga hadir ketika kehidupan tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Namun, sebelum berbicara tentang sahabat, Amsal 17:16 memberikan sebuah pertanyaan yang menarik: “Apakah gunanya uang di tangan orang bodoh untuk membeli hikmat, sedangkan ia tidak berakal budi?”
Pertanyaan ini mengingatkan kita bahwa hikmat tidak dapat dibeli dengan uang. Seseorang dapat memiliki banyak kesempatan untuk mendapatkan hikmat, dapat mendengar nasihat, membaca firman Tuhan, mengikuti persekutuan, bahkan berada di tengah-tengah orang-orang yang bijaksana. Tetapi semua itu tidak akan banyak berarti jika hatinya tidak mau dibentuk.
Pertama, hikmat harus diterima dengan hati yang mau belajar.
Masalah orang bodoh bukan karena ia tidak memiliki kesempatan untuk menjadi bijaksana. Masalahnya adalah ia tidak memiliki hati untuk menerima hikmat tersebut. Ia mungkin mendengar teguran, tetapi menolaknya.
Ia mungkin mendapatkan nasihat, tetapi menganggap dirinya lebih tahu. Ia ingin menjadi lebih baik, tetapi tidak mau melewati proses yang membutuhkan kerendahan hati.
