Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Sabtu, 29 Agustus 2026, Amsal 17:25-27  Sukacita Bagi Keluarga Dan Berkat Bagi Sesama

A
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Advertisement

Pembacaan Alkitab: Amsal 17:25-27
Tema: Sukacita Bagi Keluarga Dan Berkat Bagi Sesama

Selamat malam, sahabat pembaca Sabda GPIB yang dikasihi Tuhan. Setiap keluarga tentu mengharapkan sukacita dan kedamaian. Orang tua berharap anak-anaknya bertumbuh menjadi pribadi yang baik, bertanggung jawab, dan takut akan Tuhan.

Anak-anak juga tentu merindukan keluarga yang penuh kasih, perhatian, dan penerimaan. Namun, kehidupan keluarga tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Ada saatnya perkataan, sikap, dan pilihan seseorang justru menjadi sumber kesedihan bagi keluarganya.

Advertisement

Amsal 17:25 berkata, “Anak yang bebal menyakiti hati ayahnya, dan memedihkan hati ibunya.” Ayat ini menunjukkan bahwa tindakan seorang anak tidak pernah berdampak hanya kepada dirinya sendiri. Apa yang dilakukan seseorang dapat membawa sukacita, tetapi juga dapat membawa luka bagi orang-orang yang mengasihinya.

Kata “bebal” dalam kitab Amsal tidak sekadar menunjuk kepada orang yang kurang cerdas secara intelektual. Kebebalan lebih berkaitan dengan sikap hati yang menolak hikmat, nasihat, dan didikan yang benar.

Karena itu, seseorang mungkin memiliki pendidikan tinggi, kemampuan yang hebat, dan banyak pengetahuan, tetapi tetap dapat bertindak bodoh ketika hidupnya tidak dipimpin oleh hikmat Tuhan.

Advertisement

Pertama, hiduplah dalam hikmat agar menjadi sukacita bagi keluarga.

Keluarga adalah tempat pertama kita belajar tentang kasih, tanggung jawab, pengampunan, dan kehidupan bersama. Apa yang kita lakukan di dalam keluarga dapat meninggalkan kesan yang mendalam.

Seorang anak yang bertanggung jawab, menghormati orang tua, dan menjaga kehidupannya dengan baik akan menjadi sukacita bagi keluarganya. Sebaliknya, ketika seseorang terus-menerus mengambil keputusan yang salah, hidup dalam kebohongan, tidak bertanggung jawab, atau menolak nasihat, bukan hanya dirinya yang mengalami akibatnya. Orang tua dan keluarga pun ikut merasakan luka.

Karena itu, bagi kita yang masih memiliki orang tua, marilah kita menghargai mereka. Tidak harus dengan sesuatu yang mahal. Kadang-kadang perhatian sederhana, perkataan yang lembut, waktu untuk mendengarkan, dan doa bagi mereka sudah menjadi sukacita yang besar.

Advertisement

Artikel Terkait

Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Sabtu, 31 Okotber 2026, Ibrani 4:11-13  Jangan Menganggap Diri Bija

Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Sabtu, 31 Okotber 2026, Ibrani 4:11-13  Jangan Menganggap Diri Bija

"Karena itu, baiklah kita berusaha masuk ke peristirahatan itu, supaya jangan seorang pun jatuh

Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Jumat, 30 Okotber 2026, Ibrani 4:5-8  Hari Ini Bukan Besok

Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Jumat, 30 Okotber 2026, Ibrani 4:5-8  Hari Ini Bukan Besok

"Karena itu, la menetapkan lagi suatu hari, yaitu "hari ini", ketika la berfirman dengan perantaraan Daud jauh di kemudian hari..."

Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Kamis, 29 Okotber 2026, Ibrani 3:14-18  Berpegang Teguh Pada Keputu

Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Kamis, 29 Okotber 2026, Ibrani 3:14-18  Berpegang Teguh Pada Keputu

"Karena kita telah menjadi bagian dari Kristus, asal saja kita berpegang teguh sampai akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula"

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer