Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Minggu, 1 November 2026, Habakuk 1:1-2 Evaluasi Diri Kepekaan Dan

Pembacaan Alkitab : Habakuk 1:1-2
TEMA : "EVALUASI DIRI: KEPEKAAN DAN EMPATI"
"Berapa lama lagi, ya TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar....." (ay.2a)
Filsuf Baruch Spinoza punya pandangan mendalam tentang perdamaian. Baginya, damai sejati bukan hanya berarti tidak ada konflik.
Lebih dari itu, perdamaian harus berakar pada sifat ketuhanan itu sendiri, yang mencakup kebaikan, kepercayaan, dan keadilan yang sesungguhnya.
Pergumulan Habakuk menjadi cerminan nyata dari pencarian damai sejati yang diuraikan Spinoza (Habakuk 1:2-4).
Habakuk melihat kekerasan dan ketidakadilan di mana-mana, dan ia tidak melihat adanya intervensi ilahi.
Protesnya bukan sekadar keluhan, melainkan sebuah pertanyaan teologis yang mendasar:
Jika Tuhan itu baik dan adil, mengapa kejahatan diizinkan merajalela di antara umat-Nya? Habakuk menyerukan agar mishpat (keadilan) ditegakkan.
Reaksi Habakuk ini menunjukkan bahwa damai sejati (Shalom) tidak bisa dicapai tanpa menghadapi realitas kebobrokan secara jujur, bahkan jika hal itu harus "berdialog" dengan Tuhan melalui pertanyaan-pertanyaan yang paling menyakitkan.
