Lukas 9:12-17
Menengadah Ke Langit
Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, la mengadah ke langit, mengucap berkat .... (TB 2 - Ayat 16)
Bummmm .... ! Johan jatuh terlentang ke tanah. Batang pohon tempat bertengger patah. Pandangan matanya kabur. Pinggulnya kesakitan. Kesadarannya perlahan mulai hilang. Samar-samar matanya menangkap langit biru yang terpampang luas. Hanya ada satu hal yang segera terlintas di benak Johan, minta pertolongan Tuhan. Johan lalu berdoa. Lukas 9:12-17, mengisahkan banyaknya pengikut Yesus meski hari sudah larut malam. Jumlah mereka mencapai 5.000 orang laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak. Murid-murid meminta Yesus untuk menyuruh mereka pergi. Namun, Yesus hendak memberi mereka makan. Pada saat itu, makanan yang tersedia hanyalah lima roti dan dua ikan. Mustahil bukan!
Bagi manusia memang mustahil namun bagi orang percaya tidak ada yang mustahil. Yesus tetap tenang dan tidak bersungut-sungut atau kebingungan. Simak apa yang dilakukan Yesus dalam Lukas 9:16, " Dan setelah la mengambil lima roti dan dua ikan itu, la menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak." Mengapa Yesus menengadah ke langit? Yesus berdoa kepada Bapa-Nya yang sanggup melakukan segala perbuatan yang ajaib. Yesus percaya penuh bahwa Bapa-Nya selalu ada bersama-sama dengan-Nya. Allah tidak pernah ingkar janji. Lebih dari 5.000 orang yang hadir makan hingga kenyang dan masih tersisa 12 keranjang. Bersama Allah tidak ada yang mustahil.
Sobat teruna, kemana kita mengharapkan pertolongan ketika sedang menghadapi masalah? Narkoba, tawuran atau ikut geng motor? Bukan itu! Bacaan kita pada hari ini menyarankan dalam menghadapi masalah agar menengadah ke langit seperti Yesus, seperti Johan. Percayalah Tuhan akan menolong. Tuhan tidak pemah ingkar janji.
Doa: Tuhan Yesus, ajarkan aku untuk senantiasa menengadahkan kepala ke langit dalam kondisi susah dan senang. Hindari aku dari keputusan yang tidak tepat yang akan semakin menjerumuskanku ke dalam permasalahan yang lebih dalam. Terima kasih. Amin
Editor : Alfianne Lumantow