Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Mantan Guru di Balik Tas Gamaguchi Buatan Tangan yang Selalu Ludes dalam Hitungan Menit

A
Penulis: ALengkong❯
Tey Pei Hwa saat membuat tas gamaguchi buatan tangan di studionya. (doc: Rags to Peaches)
Tey Pei Hwa saat membuat tas gamaguchi buatan tangan di studionya. (doc: Rags to Peaches)

Advertisement

Tas-tas buatan Tey Pei Hwa biasanya habis terjual dalam 10 hingga 15 menit setiap bulannya, bahkan pernah suatu kali seluruh stok ludes hanya dalam waktu tiga menit. Di balik tas-tas tersebut adalah Tey Pei Hwa, pendiri sekaligus sosok utama di balik jenama tas kiss-lock lokal bernama Rags to Peaches. Ia bukan desainer ternama, bukan pula pemilik merek mewah, dan tidak memiliki anggaran pemasaran maupun tenaga kerja pabrik. Setiap bulan, perempuan berusia 39 tahun itu mengurung diri di studio kecilnya untuk membuat sekitar 40 hingga 50 tas gamaguchi, dengan setiap potongan kain dan jahitan dikerjakan sendiri. Sejak Pei Hwa mulai membuat tas pada 2020, setiap produk Rags to Peaches selalu habis terjual tanpa perlu diobral.

Ketertarikan Pei Hwa pada gamaguchi bermula pada 2012, saat ia tanpa sengaja menemukan sebuah toko gamaguchi sederhana di distrik Higashiyama ketika berlibur ke Kyoto. "Semuanya begitu cantik dan elegan. Rasanya seperti menemukan harta karun," ujarnya kepada CNA Women. Saat itu, Pei Hwa masih bekerja sebagai guru Sastra Inggris. Ia kembali ke toko tersebut setiap tahun untuk membeli gamaguchi hingga mengoleksi 20 tas, sembari mengembangkan ketertarikan pada kain-kain indah asal Kyoto. Pada 2017, saat suaminya menempuh studi magister di London, ia mengikuti kursus menjahit purnawaktu di sana sembari mulai menjual produk kecil buatannya melalui Instagram.

Pada 2018, sepulang ke Singapura, Pei Hwa hamil dan mulai mempertanyakan apakah profesi guru masih selaras dengan perannya sebagai calon ibu, mengingat jam kerja panjang yang nyaris tidak menyisakan ruang bagi keseimbangan hidup. Agar punya lebih banyak waktu untuk putranya, ia mengundurkan diri pada 2019, lalu belajar membuat gamaguchi secara otodidak dan dari seorang pengajar di Singapura. Pada 2020, ia mengambil langkah berani dengan membuat batch pertama berisi 15 gamaguchi dan menjualnya lewat Instagram. Tas-tas itu pun ludes, saat itu dan seterusnya, hingga kini bisnisnya dipasarkan melalui akun Instagram @ragstopeaches yang memiliki lebih dari 21.000 pengikut.

Advertisement

Proses pembuatan gamaguchi dimulai dari menggambar pola, memotong dan menjahit kain, hingga memasang serta mengencangkannya ke rangka logam. "Gamaguchi itu sangat presisi, meleset 1 sentimeter saja, semuanya bisa berantakan," kata Pei Hwa. Harga produknya berkisar S$80 untuk dompet kecil hingga S$295 untuk tas berukuran besar. Meski laris manis, penghasilannya kini lebih kecil dibandingkan saat menjadi guru, karena proses pembuatan gamaguchi membutuhkan waktu intensif dan kain berkualitas pun mahal. Meski begitu, ia memilih tidak menggunakan mesin pemotong laser demi mempertahankan sentuhan buatan tangan. "Ada koneksi manusiawi, semacam tanda tangan dan jejak personal si pembuat di sekujur tas. Itulah yang dibutuhkan di tengah dunia mode cepat yang serba instan dan mudah dibuang," tuturnya.

Logo Rags to Peaches sendiri dibuat untuk mengenang bayi Pei Hwa yang tidak sempat ia lahirkan. Pada 2022, saat usia kandungannya memasuki lima bulan, ia mengalami keguguran akibat kelainan bawaan pada jantung dan otak janin. Logo tersebut menampilkan sosok gadis kecil berkuncir dua, ditemani seekor beruang dan satu gamaguchi kecil, menatap ke kejauhan. "Sekarang, tiap kali saya duduk di studio dan melihat logo saya, saya teringat dia. Dan ketika saya memasang label pada tas-tas itu, dia seolah-olah terabadikan," kenangnya. Ia sempat menjahit lima gamaguchi kecil untuk putrinya yang tak sempat lahir. "Kadang-kadang ketika saya menjahit, saya berpikir inilah tas-tas yang tidak sempat dibuatkan untuknya. Tapi tidak apa-apa, sebab sekarang, ketika ada yang bilang mereka membeli gamaguchi untuk putri mereka, saya merasa sangat bahagia dan terhibur," tutupnya.

Advertisement
Editor : ALengkong
Sumber : https://www.cna.id/lifestyle/rags-peaches-tey-pei-hwa-tas-gamaguchi-47646

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer