
JAGOSATU.COM - Menjelang panen raya 2026, optimisme terhadap keberlanjutan produksi padi nasional kembali menguat. Dewan Pakar DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Barat, Entang Sastraatmaja, menilai sektor pertanian nasional berada dalam kondisi yang relatif siap menghadapi dinamika iklim, termasuk potensi curah hujan tinggi yang masih membayangi sejumlah sentra produksi.
Entang menegaskan, tantangan iklim tidak serta-merta menjadi penghambat bagi petani untuk menjaga produktivitas. Menurutnya, berbagai program strategis Kementerian Pertanian yang dijalankan sepanjang 2025 hingga awal 2026 telah membangun fondasi kuat bagi keberlanjutan produksi padi nasional.
“Saya yakin petani tetap mampu berproduksi dengan baik meskipun terjadi hujan ekstrem. Pemerintah secara serius membangun optimisme petani melalui berbagai program yang nyata dan terukur,” ujar Entang, Rabu (4/2/2026).
Ia menyebut, arahan Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat swasembada pangan nasional telah diterjemahkan secara konkret oleh Kementerian Pertanian melalui kebijakan yang langsung menyentuh kebutuhan petani di lapangan. Distribusi benih unggul, penambahan alokasi pupuk subsidi, hingga penguatan sarana pengelolaan air menjadi kunci utama menjaga stabilitas produksi.
Menurut Entang, dukungan sarana pengairan seperti pompanisasi dan optimalisasi jaringan irigasi sangat membantu petani dalam mengatur lalu lintas air, terutama di tengah musim hujan yang intens. Langkah ini dinilai mampu meminimalkan risiko genangan yang berpotensi merusak tanaman padi.
“HKTI mendukung penuh langkah pemerintah dalam mempersiapkan musim tanam para petani. Persiapan tanam adalah fondasi utama untuk menjaga keberlanjutan produksi padi nasional,” tegasnya.
Entang juga menyoroti keberhasilan peningkatan produksi padi nasional sepanjang 2025 sebagai bukti nyata efektivitas sinergi antara pemerintah dan petani. Ia menilai, capaian tersebut tidak lepas dari perencanaan tanam yang matang, pendampingan lapangan yang intensif, serta kepastian ketersediaan sarana produksi.
“Keberhasilan 2025 harus dijadikan pijakan, bukan sekadar pencapaian sesaat. Jika persiapan tanam terus dijaga dengan baik, saya optimistis produksi padi pada 2026 tidak hanya bertahan, tetapi berpotensi meningkat,” ujarnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) turut memperkuat optimisme tersebut. Potensi luas panen padi pada periode Januari–Maret 2026 diperkirakan mencapai 3,28 juta hektare, atau meningkat sekitar 15,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Rinciannya, luas panen Januari 2025 tercatat 0,42 juta hektare, Februari 0,76 juta hektare, dan Maret 1,67 juta hektare.
Dari sisi produksi, sepanjang Januari–Desember 2025 produksi beras nasional mencapai 34,69 juta ton, meningkat 13,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Sementara itu, produksi padi tercatat sebesar 60,21 juta ton gabah kering giling (GKG), atau naik sekitar 7,06 juta ton GKG secara tahunan.
Capaian tersebut, lanjut Entang, sejalan dengan proyeksi lembaga internasional seperti FAO dan USDA yang memperkirakan produksi beras Indonesia berada di kisaran 34,6 juta ton. Hal ini menunjukkan bahwa produktivitas lahan, perluasan luas panen, serta kebijakan yang berpihak kepada petani telah menjadi modal kuat menghadapi musim tanam berikutnya.
“Lonjakan produksi ini menunjukkan bahwa kebijakan pertanian kita berada di jalur yang benar. Produktivitas meningkat, luas panen bertambah, dan petani semakin percaya diri menghadapi tantangan iklim,” katanya.
HKTI juga mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat sinergi, khususnya dalam memastikan kesiapan tanam petani pada awal 2026. Pendampingan lapangan, kemudahan akses pupuk dan benih, serta kepastian distribusi input pertanian dinilai krusial agar petani dapat bekerja dengan tenang dan fokus pada peningkatan hasil.
“Indonesia sudah membuktikan mampu menggenjot produksi. Tantangan ke depan adalah menjaga dan melestarikan capaian ini agar swasembada beras tidak hanya menjadi prestasi sesaat, tetapi berkelanjutan. Ini pekerjaan besar yang harus dijalankan dengan kehormatan dan tanggung jawab,” pungkas Entang.
HKTI optimistis, dengan persiapan tanam yang matang dan dukungan kebijakan yang konsisten, sektor pertanian nasional akan tetap menjadi penopang utama ketahanan pangan Indonesia sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di berbagai daerah.
